Batik Podhek Pamekasan Bakal Replika Motif ‘Lawasan’

0 113

Peningkatan kualitas batik terus dilakukan pengrajin batik di Pamekasan Madura Jawa Timur agar bisa meningkatkan harga pasar. Salah satunya adalah pemilihan motif yang variatif. Hal tersebut juga dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang ingin meningkatkan kesejahteraan pembatik. 

Pembimbing batik halus Podhek Rusydi menyampaikan, bahwa tahun ini akan mencoba motif-motif kuno atau lawasan yang cantik dengan tidak meninggalkan ciri khas batik Pamekasan.“Kami sudah pengalaman berusaha meningkatkan kualitas batik dengan mereplika motif yang sudah terkenal,” tutur Rusydi saat ditemui di galeri Nargis Batik Podhek, Kamis.

Menurutnya, hal tersebut menyebabkan harga batik terangkat dan menumbuhkan semangat bagi pembatiknya. Setelah banyak mereplika motif, pernah mencoba membuat motif sendiri dan dijaga originalitasnya seperti hokosan (hoko Pamekasan). Ternyata sangat kuat meskipun akhirnya tumbang karena terlalu umum dibuat pengrajin batik Podhek.

Dipilihnya motif lawasan bukan tanpa alasan. Rusydi menjelaskan motif tersebut sangat membantu pengrajin. “Repro motif batik Oey Soe Tjoen dan belandaan saya anggap sangat membantu menyelamatkan hasil batik apabila ada cacat batikan. Pasti jadi uang dan kerugian pembatik tidak banyak, maksimal susut 10 persen,” jelasnya.

Apabila ada kasus salah motif, meskipun batikan bagus akan jatuh dari target harga sampai 30 persen. “Motif sangat kuat untuk menaikkan harga batik, misalnya motif pertama keluar harganya Rp 1.000.000 per motif, kalau sudah diulang 5 kali akan turun ke Rp 500.000, kalau sudah sering kali dibuat akan jatuh ke Rp 250.000,” kata Rusydi memerinci beberapa hal yang bisa dialami pembatik.

Keputusan memilih motif lawasan, menurut Rusydi sudah tepat untuk membantu pengrajin batik halus.“Meningkatnya jumlah pembatik halus, menjadikan kami tidak cukup waktu untuk memikirkan lahirnya motif baru. Untuk membuat satu motif baru butuh evolusi motif yang tidak singkat,” jelasnya.Puluhan motif varian hokosan sudah lahir di Podhek. Hokosan telah menjadi lambang batik Podhek.

Untuk proses batik tersebut, disampaikan Rusydi tergantung kepada kemampuan ekonomi pembatik. Minimal 3 kali celup dan 3 lepas malam tidak diterusi.“Tentu saja dengan ilmu hasil vokasional dari Kementerian Koperasi dan UKM. Tanpa ilmu itu mungkin butuh 5 tahun untuk mencapainya, jadi dengan pelatihan bisa mempercepat 5 tahun peningkatannya,” ucap Rusydi.

Prediksi harga tertinggi satu sisi batikan diharapkan Rp 7 juta dari biasanya Rp 4 juta. Harga terendah Rp 4 juta. “Semoga pengrajin tidak malu bertanya, disiplin, dan sabar agar batiknya bagus dan harganya semakin tinggi,” tutupnya.

Source https://www.suaraindonesia.co.id https://www.suaraindonesia.co.id/read/5188/20190328/211035/batik-podhek-pamekasan-bakal-replika-motif-039lawasan039
Comments
Loading...