Batik Peranakan Masa Kini

0 155

Batik Peranakan Masa Kini

Bertajuk Beauty Treasure, Jeanny Ang di Jakarta Fashion Week 2015 bulan November tahun lalu menghadirkan batik peranakan Tionghoa dengan desain fashion terkini. Motif-motif floral khas tradisional nusantara. Tiongkok dihadirkan dalam kemasan busana feminin yang ceria dan modern, dari mini dress, bawahan beraksen ruffle, balutan batik peranakan Tionghoa pada bawahan dengan paduan atasan crop leher sabrina, crop tank top bergaris dasar atau V, dan juga layer ala Jeanny Ang. Sebagai penguat aksen peranakan, ia mengolah kebaya encim dan kebaya nyonya dalam kesan outwear modern bernuansa etnik. Dan ia hendak menerjemahkan keberadaan kekayaan fashion Indonesia peranakan ke masa kini.

Sebelumnya, di Bazaar Fashion Festival 2014, lima desainer Ikatan Perancang Mode Indonesia atau IPMI, bergabung dalam satu momen fashion show dengan mengusung tema kolaburasi mereka tersebut “Peranakan Fashion Show.” Lima desainer tersebut adalah Ghea Panggabean, Stephanus Hamy, Widhi Budimulia, Adrianto Halim, dan Yongki Budisutisna.  Ghea Panggabean menampilkan corak kain batik peranakan dengan bubuhan aksesori, print emas, serta simbol-simbol budaya peranakan seperti burung hong, naga, dan batu giok. Stephanus Hamy memunculkan koleksi yang inspirasinya datang dari pesisiran Cirebon, dan diaplikasikan pada gore skirts motif batik berwarna khas pelangi.

Widhi Budimulia menghadirkan siluet-siluet penggambaran arsitektur pagoda dan kuil pada dress dan blouse berbahan organdi, jaguard, serta lace, sebagai upayanya mengintepretasikan kebudayaan oriental. Adrianto Halim bermain pada dominasi warna putih dengan sentuhan oriental dengan memodifikasi kancing baju, potongan-potongan, hingga model pakaian. Motif floral yang kerap ditemui di batik peranakan Tionghoa dimunculkan untuk menguatkan kesan tersebut. 

Penggunaan material batik tulis Cirebon pure dikenakan oleh Yongki Budisutisna dalam tema fashion show-nya Rememberance. Ia berupaya secara otentik memunculkan keindahan budaya oriental, Eropa, dan melayu dalam satu-kesatuan. “Batik tulis Cirebon diberikan oleh seorang perajin batik asal sana. Ketika melihatnya, yang tergambar oleh saya adalah perpaduan budaya tersebut,” ujarnya. Ia menjadikan batik tulis Cirebonan itu dalam bentuk siluet A dan H untuk kesan retro. “Batik Cirebon kesannya kuat dan warnanya cerah,” alasannya. Sejarah akulturasi budaya asing-nasional dapat ditelusuri pada batik Indonesia.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/bimo-gadabima/batik-peranakan-wujud-akulturasi-di-indonesia
Comments
Loading...