Batik Parang Rusak

0 770

Batik Parang Rusak

Parang Rusak pada zaman dahulu sudah biasa digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu raja bahwa mereka telah memenangkan peperangan. Motif Batik Parang Rusak cukup terkenal. Motif yang tampak sederhana ini berbentuk menyerupai jejeran huruf S yang membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Motif Batik Parang Rusak meski asal-usulnya masih menjadi perdebatan, konon katanya motif ini muncul di masa Raden Panji, seorang pahlawan kerajaan Kediri dan Jenggala di Jawa Timur pada abad ke-11. Ada juga yang berpendapat kalau Motif Batik Parang Rusak adalah karya Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) yang terinspirasi dari meditasinya di Pantai Selatan Jawa. Konon Sultan Agung mendapat ilham dari fenomena alam berupa gelombang besar yang memecah karang hingga rusak.

Motif Batik Parang Rusak memiliki nilai filosofis yang tinggi, yaitu semangat pantang menyerah seperti ombak laut yang tak berhenti bergerak. Susunan Motif Batik Parang menggambarkan jalinan yang terus tersambung, simbol akan sesuatu yang tak putus baik dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga dimana batik motif parang dijadikan hadiah dari generasi tua ke generasi muda para bangsawan.

Motif Batik Parang Rusak menjadi simbol dari orang tua agar sang anak melanjutkan perjuangan yang telah dirintis leluhurnya. Garis lurus diagonal pada Batik Parang Rusak melambangkan rasa hormat, keteladanan, serta ketaatan pada nilai-nilai kebenaran. Batik Parang Rusak dengan motifnya yang dinamis memuat pesan kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan antara suatu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya yang bisa kita maknai sebagai sebuah perbaikan terus menerus tanpa henti.

Batik Parang Rusak memiliki sebuah mitos yang masih dipercayai orang-orang tertentu. Konon, jika batik parang rusak digunakan dalam sebuah pernikahan akan berdampak buruk pada kehidupan pasangan yang akan menikah, bahtera rumah tangganya bisa dipenuhi percekcokan. Mitos ini muncul dimungkinkan karena karena batik parang rusak dulu cukup dikeramatkan dan dipakai oleh kalangan tertentu dalam acara-acara tertentu saja. Karena tidak pernah dipakai dalam acara pernikahan mungkin masyarakat awam menganggap tidak elok jika batik parang rusak digunakan dalam upacara pernikahan.

Source https://putrikawung.wordpress.com/about/ https://putrikawung.wordpress.com/2012/08/12/makna-dan-cerita-di-balik-motif-batik/
Comments
Loading...