Batik Parang, Motif Sakral Yang Sempat Terlarang Bagi Rakyat Jelata

0 90

Sekarang ini batik sudah menjadi bagian dari busana nasional. Setiap orang bisa mengenakan batik untuk segala kesempatan. Tetapi di masa lalu batik dianggap sebagai warisan budaya yang cukup sakral. Teknik pembuatan batik diwariskan secara turun-temurun. Begitu juga dengan motif batik yang dianggap mewakili status sosial pemakainya. Ada batik saudagar yang dibuat oleh masyarakat kelas pedagang, batik petani yang dibuat dan dikenakan oleh kaum petani, serta batik keraton yang khusus dibuat keluarga kerajaan.

Menurut australian Museum, ada beberapa motif batik keraton yang hanya boleh dikenakan oleh anggota keluarga kerajaaan, antara lain parang, udan liris, dan semen agung. Waktu penggunaannya pun tak bisa sembarangan. Parang slobong misalnya, dikenakan saat upacara pelantikan bagi pemimpin baru.

Motif parang memiliki makna filosofis tersendiri. Konon motif ini diciptakan oleh Panembah Senopati saat bertapa di tepi pantai selatan. Panembah terinspirasi ketika memandang ombak yang tak putus-putusnya mengulung dan menghantam karang. Karena itulah, motif paran yang tampak seperti ombak itu dianggap mewakili semangat yang tak pernah padam, seperti ombak yang mengikis batu karang dengan hantamannya secara perlahan-lahan.

Era Sukamto, Creative Director Iwan Tirta Private Collection menyampaikan ” Tanjakan-tanjakan pada motif batik parang merupakan lambang spiritual dimana semakin besar tanjakan semakin besar status sosial seseorang yang memakainnya.” Menurutnya batik parang menunjukkan cara mengasah jiwa perlahan.

Source https://tabinaco.net https://tabinaco.net/batik-parang-motif-sakral-yang-sempat-terlarang-bagi-rakyat-jelata
Comments
Loading...