Batik Mbah Guru, Batik Desa yang Menembus Dunia

0 39

Batik selalu bisa jadi andalan untuk tampil beda di Hari Raya. Apalagi jika batiknya sudah mendunia seperti halnya batik kreasi asal Lamongan ini. Batik Mbah Guru, begitulah batik khas Lamongan hasil kreasi Endang Dzunuraini (33), warga Desa Jugo, Kecamatan Sekaran ini biasa dikenal oleh masyarakat. Bermula dari mengembangkan batik lokal, yaitu batik lawasan Desa Jugo, Endang berhasil mengkreasikan batik tersebut menjadi barang yang bernilai jual tinggi.

Batik Jugo memang tak banyak yang tahu. Mbah saya yang membawa batik ini ketika ditempatkan untuk membuka pendidikan di Desa Jugo dan sekitarnya. Itu kenapa sanggar sayapun saya beri nama batik Mbah Guru karena orang-orang memanggilnya Mbah Guru. Endang menuturkan, ia memulai menekuni dunia batik ini selepas lulus dari Fakultas Sastra Univeritas Airlangga dengan modal bonek alias bondo nekat. Awalnya Endang hanya melatih membatik di Jakarta dengan mendirikan sebuah sanggar batik.

Saat di Jakarta saya mengajar batik di daerah Jabodetabek sampai bisa juara tingkat provinsi, lalu saya berpikir kenapa tidak membuatnya di Lamongan saja sebagai rumah saya dan saya balik ke Lamongan lagi sekitar tahun 2013 kemudian mulai merintis batik di sini dengan modal bonek. Untuk saat ini, Endang mengaku telah memiliki dua varian batik, yaitu batik Bandeng Lele abstrak series dan culture series. Batik Bandeng Lele abstrak series merupakan inovasi dari motif batik Bandeng Lele.

Sedangkan batik Bandeng Lele culture series lebih bercerita tentang budaya Lamongan. Culture series itu yang saya angkat misalnya Nasi Boranan, Tari Caping dan lain-lain, yang intinya budaya Lamongan. Untuk menjualnya pun, Endang melakukannya secara online. Namun berkat itu, batik Mbah Guru kreasinya telah merambah ke hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan sudah diekspor ke luar negeri.

Ditambahkan Endang, ada perbedaan mencolok dengan selera batik orang Indonesia dan asing. Kalau yang keluar negeri itu sering berupa kain syal dengan pewarnaan secara abstrak. Ini banyak disukai oleh orang luar, mereka lebih suka pewarnaan abstrak dibanding dengan detail. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, omzet yang diperoleh Endang bisa mencapai Rp 10-15 juta, dengan harga batik bervariasi tergantung motif dan desainnya, yaitu antara Rp 175 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun untuk batik lukis harganya memang bisa mencapai Rp 5 juta.

Selain berkreasi dengan batik Mbah Guru, Endang pun mulai membuka sanggar batik sebagai tempat untuk belajar dan menularkan ilmu membatiknya. Sanggar Mbah Guru, demikian Endang menyebut sanggar batiknya, juga didirikan di desa kelahirannya, Desa Jugo. Endang berharap adanya sanggar ini juga bisa berpengaruh positif di desanya dan menimbulkan gairah ekonomi di desa.

Source https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4035894/batik-mbah-guru-batik-desa-yang-menembus-dunia news.detik.com
Comments
Loading...