Batik Maos Cilacap dan Sandi Perang Pangeran Diponegoro

0 40

Batik Maos Cilacap dan Sandi Perang Pangeran Diponegoro

Pada selembar kain batik yang dibuat bisa menyimpan banyak cerita, termasuk kisah peperangan. Muncul pada abad-18, Batik Maos khas Cilacap mengandung makna dan filosofi tinggi karena menampilkan sandi laskar perang Pangeran Diponegoro. Terdapat berbagai sentra Batik Banyumasan yang tersebar di Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Banyumas, kronik Perang Jawa selalu menjadi bagian dari asal-usul tradisi membatik di sana.

Anto Djamil merupakan salah satu pengusaha batik yang ada di Sokaraja, Banyumas, juga menyebut tradisi membatik di Sokaraja diawali dengan kedatangan para laskar Diponegoro yang bergerilya ataupun berpindah dari Kasultanan Yogyakarta dan sekitarnya karena menolak tunduk kepada tentara Hindia Belanda. Euis Rohaini yang pemilik Batik Rajasa Mas di Maos, Cilacap, juga menyebut legenda laskar Diponegoro sebagai asal-usul tradisi batik orang Banyumasan. Batik Cilacap memiliki pilihan warna klasik yang menjadi ciri khas batik tulis Maos, yakni coklat, hitam dan putih, serta warna-warna yang berani, yaitu biru, hijau, atau kuning.

Beberapa Motif Sandi Perang  yang  masih  diproduksi  sampai  saat  ini  adalah  Galaran yang bermakna  pasukan  yang  sudah berkumpul berbaris rapi, Buntal Gabahan yang bermakna sandi ranjau yang terpasang di pematang sawah, Cebong  Kumpul bermakna  agar  pasukan  berkumpul  dan  merapatkan  barisan  guna  bersiap menghadapi musuh, dalam makna yang lebih luas, motif ini memberi makna arti penting persatuan. Dengan persatuan dan kesatuan segala bahaya, musuh, dan kesulitan akan mudah dihadapi, Kembang  Ambring bermakna  pesan  persatuan,  bersatu  dalam  menghadapi  musuh.  Lar Buntal, bermakna misi pembagian wilayah atau pembagian tugas yang rata. Cuplik Pring atau Cebong Kumpul, bermakna  penempatan pasukan, kode bahwa disitu adalah  tempat  berkumpulnya  pasukan yang  siap, Andaindi bermakna  tingkatan  dalam  tugas  atau  struktur,  organisasi,  pemerintahan  atau pembagian wewenang, Blarak  Sineret bermakna  kebersamaan, kemenangan  dalam perjuangan  tidak  hanya dicapai oleh salah  satu  orang  atau  salah  satu  pihak  saja, ada  pihak-pihak lain  yang juga turut  andil, dan Rujak Sente bermakna pemimpin harus tegas, padat, dan bermakna.

Source http://www.kompas.com/ http://lifestyle.kompas.com/read/2017/10/02/084200720/batik-maos-cilacap-dan-sandi-perang-pangeran-diponegoro
Comments
Loading...