Batik Mangkunegaran, Penerus Sejarah Klasik Budaya Batik Mataram

0 7

Batik Mangkunegaran, Penerus Sejarah Klasik Budaya Batik Mataram

Batik Indonesia memiliki sejarah panjang dari zaman dahulu kala. Sejak zaman kerajaan hingga zaman pemerintahan batik selalu bertahan dengan gemerlapnya dunia fashion yang semakin beragam. Ketika Mataram terpecah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kemudian juga memunculkan Praja Mangkunegaran.

Praja Mangkunegaran adalah sebuah kerajaan otonom yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757 sampai dengan 1946. Penguasanya adalah cabang junior dari Dinasti Mataram, disebut Wangsa Mangkunegaran, yang dimulai dari Mangkunegara I (Raden Mas Said).

Meskipun berstatus otonom yang sama dengan tiga kerajaan pecahan Mataram lainnya. Penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yang sama tinggi dengan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Penguasanya tidak berhak menyandang gelar “Sunan” ataupun “Sultan” tetapi “Pangeran Adipati Arya”.

Sebagai pecahan dari Mataram, Mangkunegaran juga mewarisi budaya batik yang sampai sekarang masih turun-temurun dilestarikan. Pura Mangkunegaran memiliki banyak seniman batik yang penuh daya kreativitas, di antaranya Ibu Bei Mardusari yang juga dikenal sebagai pesinden RRI Surakarta dan sekaligus seorang penari Jawa. Salah satu batik karyanya adalah Buketan Pakis. Selain itu, di Mangkunegaran juga ada Ibu Kanjeng Mangun Kusumo yang telah menciptakan motif batik Liris Cemeng.

Batik Mangkunegaran karya Ibu Bei Mardusari seperti Sapanti Nata, Ole-ole, Wahyu tumurun, dan Parang Barong Kesit. Mangkunegaran memiliki banyak seniman klasik yang terus melestarikan budaya batik yang akhirnya sampai memunculkan Desa Batik Girilayu yang berada di Matesih, Karanganyar dan dibawah Astana Mangadeg, tempat makam para raja-raja Mangkunegara.

Desain Batik Mangkunegaran memiliki desain yang hampir sama dengan desain Surakarta, namun Mangkunegaran lebih kreatif dan inovatif terkait desain batik yang ada. Hal ini terbukti dengan berbagai desain batik baru karya praja Mangkunegaran yang mencerminkan sebuah karya seni yang matang dengan isen-isen yang bervariasi dan kreatif. Penempatan ornamen yang bagus sehingga lebih feminim dan harmonis. Warna yang dihasilkan seperti Surakarta namun lebih memiliki warna ke soga cokelat.

Sekarang Batik Mangkunegaran masih bisa kita nikmati, pada Pameran Batik Khas Mangkunegaran di Museum Tekstil, pada 28 November – 1 Desember 2013 lalu. Yang menarik, koleksi batik pada masa pemerintahan Mangkunegara II pada tahun 1796 – 1835 dipamerkan disitu. Ada lagi yaitu motif naga hasil karya permaisuri Mangkunegara VIII yang diciptakan pada tahun 1946-1952.

Batik Mangkunegaran yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun masih awet dan masih terlihat tajam warnanya. Batik tidak boleh dicuci dengan deterjen, tetapi menggunakan lerak menurut Wishnu Sudarmadji. Batik asli Mangkunagaran menggunakan bahan herbal untuk pewarnaan. Kami pakai akar pohon, kulit pohon ataupun getah. Jadi semakin lama disimpan semakin bagus,.

Meskipun sekarang inovasi batik kontemporer berkembang begitu pesat. Namun batik klasik masih menjadi primadone tersendiri bagi para kolektor. Karena motif klasik yang sangat susah dikerjakan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Secara tidak langsung kami juga ingin mempertahankan motif batik klasik yang semakin tergerus budaya batik kontemporer. Karena batik klasik semakin susah ditemukan. Sebagai kelanjutan dari artikel ini nantinya kita akan membahas Desa Batik Girilayu yang berkaitan erat dengan Batik Mangkunegaran terkait dengan motif dan pewarnaannya.

Source http://indonesianbatik.id/ http://indonesianbatik.id/2018/01/31/batik-mangkunegaran-penerus-sejarah-klasik-budaya-batik-mataram/
Comments
Loading...