Batik Madura “Jokotole” Merambah Jepang

0 138

Batik Madura “Jokotole” Merambah Jepang

Di ujung Madura, tepatnya di Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, batik menjadi salah satu warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai ekonomis tersendiri. Di Tanjung Bumi ini memang banyak terdapat usaha kecil menengah (UKM) kerajinan batik, salah satunya Jokotole. Di tempat ini, ada empat perempuan yang bertugas menutup warna, dan dua orang yang bertugas menjemur. Sebanyak 22 perempuan lainnya tergabung dalam komunitas Jokotole, sebagai mitra. Pemilik Jokotole, Uswatun Hasanah memang belum begitu lama memulai usaha ini, yakni pada 2011 lalu. Batik inilah yang menjadi aset Bangkalan. Tapi pada waktu itu banyak yang berhenti membatik. Akhirnya, puluhan perempuan di Tanjung Bumi saat ini kembali berkarya, menghasilkan batik khas Bangkalan.

Sama seperti daerah-daerah lain, batik Bangkalan juga memiliki kekhasan, misalnya dalam corak dan warna. Uswatun mengatakan, merah, hijau, kuning, dan biru adalah warna khas batik Madura umumnya, termasuk di Bangkalan ini. Sementara itu corak yang umum adalah akar-akaran dan sik malaya. Warna hijau mencerminkan sisi-sisi religi masyarakat Madura, sedangkan warna kuning melambangkan padi yang menguning. Adapun warna biru menunjukkan bahwa wilayah Madura dikelilingi oleh lautan biru. “Warna merah melambangkan keberanian, tapi bukan dalam konotasi yang negatif. Maksudnya adalah berani mempertahankan harga diri,” ucap dosen kewirausahaan di Universitas Trunojoyo itu.

Setiap bulan, bengkel Jokotole mampu menghasilkan 300 hingga 500 lembar batik. Sama seperti batik pada umumnya, proses pengerjaan batik biasa memakan waktu paling lama satu minggu. Dimulai dari melajur atau membuat pola, lalu mewarnai, melilin, melorot, mencelup, melorot lagi, lalu mencelup lagi, dan baru kemudian menjemur, satu lembar batik berukuran 220 x 110cm dibanderol Rp. 200.000. Lain halnya dengan Batik Gentongan. Uswatun menuturkan, perbedaannya terletak pada proses perendaman. Batik Gentongan yang menggunakan pewarna alami, seperti akar-akaran direndam dalam gentong terlebih dahulu. Prosesnya pun memakan waktu 2 hingga 6 bulan

Dengan lamanya proses pengerjaan pada Batik Gentongan, menjadikan harganya pun jauh lebih tinggi dibanding Batik Bangkalan biasa. Jika batik biasa dihargai Rp. 200.000 per lembar, dengan ukuran sama maka batik gentongan dihargai paling murah Rp. 1 jutaan. Walaupun harganya mahal ternyata beberapa pembeli kepincut memiliki Batik Gentongan. Tak hanya kalangan tertentu pasar domestik saja, tapi juga orang-orang Jepang, China, dan Malaysia.

Source http://www.kompas.com/ http://ekonomi.kompas.com/read/2014/12/14/111751226/Batik.Madura.Jokotole.Merambah.Jepang
Comments
Loading...