Batik Linggo Kendal

0 87

Batik Linggo Kendal

Ciri khas yang terdapat Batik Linggo terdapat pada pewarnaannya yang menggunakan pewarna alam. Zat warna alam yang digunakan masih sangat terbatas pada jenis kayu (jambal, tegeran, tingi, mahoni, dan secang), daun (tom/indigofera), dan biji jalawe. Jenis pewarna tersebut sebenarnya sangat umum digunakan. Belum ada jenis pewarna alam unggulan yang membedakan Batik Linggo dengan industri batik berbasis pewarna alam lainnya. Saat ini industri Batik Linggo masih tergantung pada pasokan pewarna alam dari petani pewarna alam dari Ambarawa atau Yogyakarta. Ketegantungan ini, bagaimanapun juga menjadi kendala bagi kontinyuitas produksi. Sebenarnya wilayah Limbangan di mana Batik Linggo berada merupakan daerah perkebunan yang sangat potensial untuk ketersediaan zat warna alam dari tumbuh- tumbuhan, terutama mahoni, kopi dan sengon. Di lokasi sekitas terdapat seorang petani yang berminat menanam tanaman zat warna alam yang bersifat semusim. Bahan baku lainnya seperti kain mori, malam batik, dan bahan pembantu lainnya dibeli dari daerah Pekalongan atau Solo.

Proses pewarnaan dengan menggunakan zat warna alam membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada variasi warna yang dihasilkan. Untuk pencelupan satu warna, sehelai batik diselesaikan dalam waktu satu minggu. Bila warna yang digunakan banyak, maka selembar batik dapat diselesaikan dalam 3 bulan. Akan tetapi, pewarnaan di Batik Linggo, dapat dilakukan 10 lembar dalam sehari, namun penyelesaiannya rata-rata 20 lembar per bulan. Oleh karena itu, batik pewarna alam relatif lebih mahal, berkisar antara Rp. 200.000,- hingga Rp. 300.000,- per helai (2 meter). Motif yang kompleks hargnya bisa mencapai Rp. 1.500.000,- . Meskipun mahal, namun batik dengan pewarna alam sangat disukai wisatawan asing. Tidak terdapat gudang produk jadi batik disini. Meskipun sudah melakukan upaya pengembangan motif sendiri (linggo, padi, dan daun kopi), namun motif khas daerah belum tereksporasi dengan baik.

Motif yang lebih banyak dengan menggunakan alat cap, dan jenis motif yang dihasilkan sangat terbatas. Kejenuhan motif cepat terasa, karena perkembangan motif-motif baru hampir tidak ada. Ketergantungan motif pada pengrajin alat cap sangat tinggi. Penggunaan alat cap memungkinkan terjadinya duplikasi motif, bila pengrajin alat cap juga membuatkan desain yang sama untuk industri lain. Dengan demikian, keunggulan dari segi motif sulit diperoleh. Produk yang dihasilkan Batik Linggo hanya dalam bentuk kain batik berukuran 2 atau 3 meter. Produk hilir tidak dikembangkan. Penjualan batik dalam bentuk kain relatif lebih sulit dibandingkan dengan penjualan batik dalam produk jadi. Pengrajin menyatakan keinginan untuk menghasilkan motif batik sesuai pola busana, busana batik, dan produk jadi lain, seperti tas, topi, dompet, ikat pinggang, dan sebagainya.

Source http://download.portalgaruda.org/article.php?article=445282&val=5685&title=PEMBERDAYAAN%20PENGRAJIN%20BATIK%20KENDALUNTUK%20MENDUKUNG%20PARIWISATA
Comments
Loading...