Batik Lasem, Kultur Budaya “Chinese Van Java”

0 104

Batik Lasem yang merupakan perpaduan antara corak Cina dan Jawa mulai menjadi incaran para pecinta batik di Indonesia. Namun maraknya batik cap dan printing membuat batik ini mulai kurang diminati.

Mungkin memang harga dari batik tulis itu tidak murah, oleh karena itu para pecinta batik beralih pada batik cap atau printing. Sebelum kecintaan Anda terhadap batik Tulis Lasem ini juga mulai luntur, lebih baik kita simak 3 hal menarik tentang batik ini.

Indahnya perbedaan. Anugerah itulah yang Semesta berikan kepada Indonesia, dengan kearifan budaya multikultural serta kekayaan alam yang berbeda dari satu daerah dan lainnya. Salah satu faktor dari keanekaragaman ini adalah terbukanya nenek moyang kita pada budaya baru yang memudahkan proses akulturasi di Indonesia.

Bila Anda ingin merasakan langsung damainya dua etnis yang hidup berdampingan, berkunjunglah ke Lasem. “La Petit Chinois” “Chinese Van Java”cadalah beberapa sebutan dari kota kecil yang berada di pesisir utara Jawa Tengah ini. Akulturasi antara masyarakat lokal dan Tionghoa tertuang dalam salah satu warisan budayanya, batik Lasem.

Batik Lasem mungkin tidak sepopuler ‘saudara-saudara’ nya yang lain seperti batik Pekalongan, Yogyakarta, atau Solo. Namun batik Lasem menawarkan sesuatu yang unik dan berbeda. Motif burung hong, liong (naga), bunga seruni, mata uang, banji, dan warna merah darah ayam khas Cina yang konon tidak bisa ditiru oleh batik lain ini, merupakan bukti kental pengaruh budaya Tiongkok di pesisir Sentrajava ini.

Kisah pembauran Tiong Hoa-Jawa ini dicikal bakali oleh kedatangan Panglima Cheng Ho dan nahkoda nya Bi Nang Un yang berlabuh di Regol, Kadipaten Lasem pada abad ke-15. Sementara istri dari nahkoda tersebut, Na Li Ni, membaur dan mengajarkan masyarakat sekitar akan motif-motif khas Cina.

Empat abad kemudian, batik Lasem mengalami masa keemasannya dan terkenal sampai ke pulau Sumatra, Semenanjung Melayu hingga Suriname.

Semakin berkembangnya batik Lasem pun menginspirasi para perajin batik pada zaman itu untuk mencipta motif lokal seperti latohan (sejenis rumput laut yang bisa dijadikan bahan makanan) dan krecakan atau watu pecah, yang konon terinspirasi dari penderitaan rakyat yang harus memecah batu-batu besar untuk dibuat Jalan Raya Pos pada masa pemerintahan Daendels.

Njo Tjoen Hian, atau yang kini dikenal dengan nama Sigit Witjaksono, merupakan salah satu dari sedikit pengrajin batik Lasem yang masih memegang teguh pakem asli batik Lasem yang konservatif.

“Warna merah darah ayam (abangan), biron tua (biru tua), bang biron (merah biru), tiga negeri (merah biru coklat), dan empat negeri (merah biru coklat ungu) adalah ciri khas warna batik Lasem. Biasanya warna yang dipilih adalah warna gelap.” ujar lelaki ini.

Sesepuh Paguyuban Batik Lasem ini giat mempertahankan keaslian motif dan warna yang diwariskan oleh leluhur, dan belum berencana untuk berhenti sampai disini. “Batik Lasem adalah saksi sejarah tentang pembauran budaya yang tidak boleh hilang.” ucap lelaki yang setia sejak 1969 menjalankan bisnis batiknya Sekar Kencana, bersama sang istri tercinta.

Source https://www.vemale.com https://www.vemale.com/pernik/19049-batik-lasem-kultur-budaya-chinese-van-java-3.html?utm_source=Detail-Artikel-Pagging&utm_medium=pagging-number&utm_campaign=vem-annual-report&utm_content=next-pagging-3
Comments
Loading...