Batik Kliwonan Masih Andalkan Transaksi Manual

0 163

Batik Kliwonan Masih Andalkan Transaksi Manual

Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Kabupaten Sragen sebagai salah satu penghasil batik tulis. Potensi batik di Bumi Sukowati tersebut kurang terdengar jika dibandingkan Solo, Jogjakarta dan Pekalongan. Padahal Kabupaten Sragen memiliki dua sub-sentra batik yakni Kecamatan Plupuh dan Masaran. Di kedua tempat tersebut ada desa penghasil batik. Letak keduanya berdekatan, saling berseberangan di sisi utara dan selatan Sungai Bengawan Solo. Berada di pinggiran sungai, kawasan ini juga dikenal dengan sebutan batik Girli (Pinggir Kali), atau pingir sungai. Ada juga yang mengenalnya dengan sebutan Batik Kliwonan karena mengambil nama salah satu desa produsen yang berlokasi di Kecamatan Masaran.

Predikat Desa Wisata Batik ini juga disandang oleh pembatik yang tinggal tak jauh dari desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen hanya berseberangan sungai Bengawan Solo, namun sudah berada di kecamatan yang berbeda, yaitu di desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen. Kurang dikenalnya Batik Kliwonan tampaknya patut dimaklumi karena sebagian besar perajin batik di Desa Kliwonan maupun Desa Pilang yang letaknya bersebelahan menyetorkan produksi mereka ke pengepul di Solo atau pemilik kios di Pasar Klewer Solo serta ke kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Jakarta. “Bahkan ada pula pelanggan kami dari Pekalongan yang mengambil batik dari sini dan diberi label sendiri,” kata Ny Ramno, salah satu pemilik Batik Tradisional Purnama. Selain itu pengusaha batik di Desa Kliwonan masih mengandalkan transaksi secara manual, pembeli datang ke lokasi dan membayar secara tunai. Mereka belum menggunakan penjualan secara on line lewat websitedi internet.

Meskipun ada juga yang membeli lewat telepon dan meminta barangnya dikirim lewat jasa kurir paket. Hal ini juga dibenarkan oleh Suwanto AR, Kepala Desa Pilang, hampir semua pemilik unit usaha batik di Desa Batik Kliwonan menyuplai produksi batiknya ke broker- broker yang ada di kota. Demikian pula untuk membuat showroom di rumah produksi, lanjutnya, mereka berhitung dua kali karena posisinya terpencil di desa dan sulit dijangkau oleh pembeli dari kota. Suwanto AR menyebutkan saat ini sentra batik Girli menjadi kawasan wisata terpadu dengan nama Desa Wisata Batik Kliwonan. Di Sentra Batik Kliwonan ada sekitar 85 Usaha Kecil Menengah yang telah menyerap 5.000 tenaga pembuat batik.

Tentang motif, Motif Batik Girli yang diproduksi masyarakat di Desa Kliwonan maupun di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen motifnya hampir sama dengan motif batik Solo maupun Jogya, bahkan batik pesisiran. Namun motif batik Sragen cenderung berwarna dasar lebih terang daripada batik Solo. Motifnya lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna, yang dikombinasi dengan motif klasik, seperti diberi isen-isen motif Parang, Sidoluhur, Kawung, Truntum dan sejenisnya.

Source http://www.solopos.com/soloraya http://www.solopos.com/2011/11/09/batik-kliwonan-masih-andalkan-transaksi-manual-123570
Comments
Loading...