Batik Kerek

0 295

Batik Kerek

Sebelum datangnya para penduduk dari Tionghoa masuk ke Kecamatan Kerek, warga sekitar sudah mengenal batik Kerek dari nenek moyang mereka. Warga Kerek memodifikasi batik China dan kemudian diterapkan menjadi batik Kerek. Karena bahan Batik China, berupa Sutra Cina yang sulit diakses maka para masyarakat sekitarnya menggunakan bahan pengganti kain untuk batik yang biasanya sering dipakai masyarakat Kerek, yaitu kain tenun. Kreatifitas dan imajinasi yang digunakan oleh para pengrajin batik Kerek yang luar biasa, sehingga dihasilkan ratusan motif-motif baru. Motif yang dimaksud, antara lain : Krompol, Sri Gunting, dan Cincin Miring.

Sampai sekarang ini  batik Kerek masih menggunakan bahan-bahan alami (natural ingredients) sebagai zat pewarna batik, seperti : warna cokelat menggunakan kayu Mahony (Swietenia macrophylla), sedangkan untuk warna hijau dan biru menggunakan daun Indigo (Fabceaea). Seacara umum para masyarakat Tuban memfungsikan Batik Kerek sebagai mapakan dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki kepada calon pengantin perempuan dengan jumlah banyak, bahkan sampai seratus lembar.

Demi memperluas pasar, kain tenun pun diganti dengan kain Mori yang dapat dengan mudah di akses dan tentu dengan harga yang juga lebih murah. Batik dari kecamatan Kerek dengan bahan kain Mori kini umum disebut sebagai batik Kerek. Pada tahun 1970, masyarakat di Kerek Kabupaten Tuban mulai menyebut produknya dengan Batik Gedog karena selama ini masyarakat belum memberikan nama batik tersebut padahal batik itu telah ada selama ratusan tahun. Pemberikan kata Gedog, menurut Uswatun Hasanah, berasal dari alat penenun yang menghasilkan suara dok-dok pada hentakan kayu alat tersebut.

Source Batik Kerek Batik
Comments
Loading...