Batik Jataka II

0 45

Batik Jataka II

Batik Jataka II dibuat dengan menggunakan bahan yang digunakan dalam pembuatan batik motif Jataka II ini adalah kain primisima. Bahan pewarna yang digunakan adalah zat remasol. Teknik pewarnaan menggunakan smok kenyuk. Kain primisima memiliki sifat bahan yang dapat bertahan dengan suhu panas pada proses pelorodan, dapat menyerap warna, sehingga kain ini dapat melalui proses membatik dengan baik. Dalam proses pembuatan batik ini menggunakan teknik batik tulis dan teknik pewarnaan smok. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam pembuatan karya ini, seperti pembuatan desain, mewarna, memola atau menjiplak, mencanting, melunturkan dan melorod. Teknik pewarnaan pertama adalah teknik smok kenyuk dengan menggunakan larutan warna remasol merah RB, biru RSP, dan ungu SR. Sebelum warna dikunci menggunakan larutan waterglass, kain terlebih dahulu dijemur dan ditaburi soda abu secara merata. Kemudian ditutup malam sesuai dengan pola menggunakan canting. Selanjutya kain dilunturkan menggunakan larutan zat sulfurit H2SO4 dan larutan soda abu. Setelah itu kain diwarna kembali menggunakan teknik smok kenyuk dengan larutan remasol warna biru TQ, ungu SR, merah RB dan kuning FG. Lalu kain direntangkan untuk di smok dan ditaburkan soda abu lalu dikunci kembali menggunakan larutan waterglass. Setelah proses pewarnaan selesai, kain disetrika agar rapi.

Batik ini dibuat dengan pengulangan Motif Jataka yang terdiri dari kera diatas buaya, rusa, gajah, kura-kura dan burung. Keseluruhan hewan tersebut terkandung dalam cerita Jataka yang terpahatkan pada dinding relief candi Mendut dan tentunya mempunyai makna simbolik tersendiri bagi kaum Buddha. Contoh cerita Jataka yang sesuai dengan motif batik Jataka II adalah mengisahkan seekor Buaya dan Kera. Seekor buaya yang mempersilahkan si kera menaiki punggungnya karena mempunyai maksud tertentu yaitu menginginkan sebuah jantung si kera. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada buaya bahawa jantungnya tertinggal di seberang sungai. Kemudian buaya itu mempercayai si kera yang menyuruh buaya untuk terus membawanya sampai ke seberang sungai. Setibanya di seberang sungai, si kera segera meloncat menyelamatkan diri.

Sesuai dengan ceritanya dan kesatuan warna yang terdapat pada motif batik Jataka II terdapat makna yang terkandung. Warna biru yang melambangkan kedamaian, ungu melambangkan kelembutan, kuning memberi kesan keceriaan dan merah memiliki arti keberanian, diharapkan si pemakai mempunyai keberanian untuk menghadapi segala rintangan dan selalu mempunyai hati yang lembut agar memperoleh kebahagiaan dan kedamaian dalam menjalani hidup.

Source http://eprints.uny.ac.id/45916/1/Lap.TAKS%20full.pdf
Comments
Loading...