Batik Indonesia : Perkembangan Batik Setelah 1900

0 31

Sementara proses industrialisasi berkembang pesat di Eropa, Indonesia pada zaman kolonial juga mendapatkan pengaruh tidak langsung dari industrialisasi tersebut. Industri pakaian, terutama batik, menjadi kegiatan industri yang banyak dikerjakan oleh kaum perempuan pada zaman tersebut. Produksi batik pada awal-awal akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 telah menunjukkan diri sebagai industri yang cukup besar baik secara kualitas produksi maupun penyerapan tenaga kerja dengan munculnya pusat industri batik di daerah Laweyan dan memunculkan saudagar-saudagar batik yang terkenal.

Menurut data produktifitas batik di Laweyan pada 3 bulan keadaan ramai bisa mencapai 32.400 potong dengan produksi sampai 360 potong per hari. Pengerjaan batik baik cap maupun tulis masih dikerjakan dengan tangan meskipun proses industrialisasi telah masuk ke dalam pengusaha batik besar di Laweyan. Produksi pakaian di Surakarta sendiri telah berkembang dengan adanya industri batik dengan komoditas berupa kain batik dengan pemasaran yang cukup luas meliputi pulau Jawa di luar pulau Jawa.

Penggunaan kain batik sebagai bahan pakaian dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat dari tingkat strata sosial yang terendah hingga golongan raja dan bangsawan, yang membedakan hanya kualitas kain dan corak yang telah diatur oleh penguasa lokal Surakarta. Bahkan pada awal abad ke-20 masyarakat Belanda yang tinggal di Surakarta juga telah ikut menggunakan kain batik dan kebaya.

Source Prajnaparamita indonesianbatik.id/2018/03/23/perkembangan-industri-batik-masyarakat-surakarta-setelah-tahun-1900
Comments
Loading...