Batik Indonesia : Maskulin & Kedinamisan Mega Mendung

0 37

Pada masa awal baru menyukai batik, tak terlalu tertarik dengan batik Mega Mendung. Motifnya yang monoton agak membosankan, apalagi desain motif awannya yang memang tidak simetris menyulitkan untuk dijadikan kemeja. Memang penyuka motif-motif simetris. Suatu saat, dikenalkan dengan batik Mega Mendung berwarna merah-biru, yang entah mengapa sangat memikat hati. Kesan elegant, expensive, masculine sekaligus calming terpancar dari selembar kain batik yang di pegang.

Dan ketika menjahitkannya menjadi kemeja, jatuh cinta. Mega Mendung, seperti asal katanya “awan mendung”, adalah motif batik berbentuk awan nimbus yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, yang merupakan warisan Kerajaan kuno Cirebon. Diceritakan bahwa pola berbentuk awan ini merupakan pengaruh dari Tiongkok, asimilasi budaya dari perkawinan Sunan Gunung Jati (tokoh yang menyebarkan Islam di Cirebon) dengan Ratu Ong Tien dari Tiongkok.

Kedatangan Ratu Ong Tien ke Cirebon membawa serta keramik, piring-piring, dan kain-kain dengan pola-pola menyerupai awan. Benda-benda bersejarah yang masih bisa dijumpai di situs peninggalan Keraton Cirebon. Dalam budaya Tiongkok, pola menyerupai awan menggambarkan “dunia kahyangan” atau “negeri dewa-dewa”. Pola berbentuk awan ini berasimilasi dengan budaya lokal dan mengalami perubahan bentuk. Jika dalam budaya Tiongkok pola awan berbentuk bundar dengan ujung-ujung lengkung, dalam budaya Cirebon bentuk awan menjadi lebih oval dengan ujung berbentuk sudut yang tajam.

Source kepulauanbatik.com kepulauanbatik.com/2016/01/19/maskulinitas-dan-kedinamisan-dalam-sepotong-batik-mega-mendung-2
Comments
Loading...