Batik Indonesia : Cinta Abadi “Tumaruntum” dalam Batik Truntum

0 174

Sri Susuhunan Pakubuwana III (1732 – 1788) adalah raja kedua Kasunanan Surakarta yang memerintah pada periode 1749 – 1788. Pada masa pemerintahan Pakubuwana III ini lah Kasunanan Surakarta pecah menjadi 2 sebagai akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi. Ditandai dengan Perjanjian Giyanti tanggal 15 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi diakui berdaulat atas separoh wilayah Pakubuwana III – yang kemudian bergelar Hamengkubuwono I dan memimpin wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Kasunanan Yogyakarta.

Sedangkan wilayah Pakubuwana III yang tinggal separuh, kemudian dikenal dengan nama Kasunanan Surakarta. Pada masa pemerintahan Pakubuwana III ini juga dikisahkan satu motif batik klasik tercipta, yaitu motif Truntum. Dikisahkan istri Pakubuwana III, yaitu permaisuri Kanjeng Ratu Kencana, tidak mampu memberikan keturunan bagi sang raja, sehingga sang raja berniat untuk menikah lagi. Dalam kesedihannya, Kanjeng Ratu Kencana hanya bisa merenungi nasibnya, termenung bermalam-malam, memandang langit kelam penuh bintang.

Kanjeng Ratu Kencana membatik untuk mengusir kesedihan hatinya. Motif yang diciptakannya seperti taburan bintang-bintang yang gemerlap dalam gelapnya malam tanpa cahaya bulan. Motif ini menggambarkan suasana hati dan harapan Kanjeng Ratu Kencana, bahwa akan selalu ada kemudahan dan harapan dalam setiap kesulitan yang sedang dihadapi. Ketekunan Kanjeng Ratu Kencana dalam menorehkan malam dalam motif kecil-kecil menutupi seluruh kain, pada akhirnya menarik minat sang Raja. Tanpa sadar, Pakubuwono III mengikuti batik.

Source kepulauanbatik.com kepulauanbatik.com/2016/02/14/cinta-abadi-tumaruntum-dalam-batik-truntum
Comments
Loading...