Batik Indonesia : Batik Rifaiyah Tiga Negeri Sarat Nilai Spiritual

0 42

Batik Rifaiyah Motif Tiga Negeri yang menjadi primadona pecinta batik, dalam prosesnya memiliki sejarah dan kental nuansa religius. Tidak heran kalau harganya cukup mahal. Tidak hanya diburu pecinta batik dalam negeri tetapi juga tembus ekspor.

Ketua Kelompok Tunas Harapan Batik Rifaiyah, Miftakhutin mengatakan, batik Rifaiyah merupakan warisan nenek moyang dari keturunan Syech KH Ahmad Rifai dari Desa Kali Pucang Wetan Kecamatan Batang. Menurut sejarah proses pembuatan batik sebagai media syiar agama Islam pada zaman dahulu.

“Dalam proses pembuatannya ada ritual yang biasa dijalankan sebelum membatik. Yaitu salat duha terlebih dahulu. Membatiknya diiringi kidung syair berbahasa Jawa dan Arab  yang berisi nasehat kepada manusia dan lingkungan alam semesta,” ungkap Miftakhutin di galeri dan workshop Batik Rifaiyah Desa Kalipucang Wetan Batang, Selasa.

Ia juga mengatakan batik Rifaiyah tidak diklaim komunitas Rifaiyah, akan tetapi sudah terjadi akulturasi batik dari daerah lain seperti Lasem yang berdominan warna merah. Solo dominan warna cokelat dan Rifaiyah sendiri dominan warna biru indigo.

“Dari pencampuran tadi memunculkan jenis batik baru yang diberi nama batik Tiga Negeri khas Rifaiyah dan sudah dikembangkan turun temurun,” ungkap Miftakhutin yang merupakan generasi kelima pembatik setempat.

Dijelaskan juga ada ciri khas batik Tiga Negeri Rifaiyah yang melarang penggambaran motif hewan secara utuh pada lembaran kain. Karena mereka menyakini itu berdosa. Adapun proses pembuatannya yang kasar waktunya mencapai 3 minggu selesai. Batik sedang mencapai 2 bulan dan yang halus mencapai 6 bulan untuk satu helai kain.

“Harga batik Rifaiyah Tiga Negeri termurah Rp 350 ribu untuk batik kasar, batik sedang mencapai Rp 4 juta, batik halus dijual Rp 6,5 juta. Dengan pemasaran Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Korea, Jepang, Yunani, Amerika, dan Swedia,” jelas  Miftakhutin.

Lebih lanjut dikatakan, batik Rifaiyah lebih mempertahankan ciri tradisi. Sehingga hanya melayani pesanan terbatas.

“Kami membatik bukan menjadi bagian hidup, karena kalau secara ekonomi tidak memungkinkan. Semangatnya hanya pertahankan tradisi dan warisan leluhur.

Pemerintah daerah sangat mendukung dengan memberikan bantuan alat dan pelatihan serta mengikuti pameran. Tidak hanya itu Pemkab juga mempromosikan setiap tamunya yang datang ke Batang.

Bupati Batang Wihaji mengatakan, batik Rifaiyah punya karakter dan kekhasan sendiri. “Untuk mengangkat batik kita akan boomingkan di tingkat daerah, yang mewajibkan ASN untuk menggunakan pakaian batik khas Rifaiyah,” tegas Wihaji.

Karena keterbatasan kain sebagai bahan baku, pihaknya akan berkomunikasi dengan pabrik tekstil di Batang dalam rangka bina lingkungan  meminta stok bahan kain.

“Untuk bina lingkungan kami minta ada pendistribusian langsung bahan kain untuk kelompok usaha bersama  (KUB)  batik yang ada di Batang,” pinta Wihaji kepada pabrik tekstil di Batang.

Source https://radarsemarang.com https://radarsemarang.com/2018/05/23/batik-rifaiyah-tiga-negeri-sarat-nilai-spiritual/
Comments
Loading...