Batik Hijaiyyah Lahir dari Sebuah Kegelisahan

0 125

Batik Hijaiyyah Lahir dari Sebuah Kegelisahan

Seiring maraknya protes penggunaan kutipan Alquran sebagai bagian dari fashion. Kegelisahan Suswahyuni justru melahirkan motif batik genre baru, yakni Batik Hijaiyyah. Batik ini juga mencomot huruf-huruf bahasa Arab alias huruf Hijaiyyah.  Semangat dan kesadaran pluralisme adalah modal besar bangsa. Namun sayangnya, kata Suswahyuni, fakta terkait pluralisme masih menyedihkan. Banyak insiden tidak menunjukkan sikap toleransi penghargaan pluralisme. Kadang pembelaan atas identitas juga dilambari sempitnya pengetahuan.  Suswahyuni kemudian mendatangi budayawan Djawahir Muhammad dan juga pegiat batik Semarang Umi S. Adisusilo untuk berdiskusi. Akhirnya mereka sepakat ikut mengampanyekan pluralisme, tetapi justru dengan memanfaatkan huruf Arab.

Budayawan dan sejarawan Semarang Djawahir Muhammad ikut memberi garansi bahwa motif batik dengan huruf Arab bukan suatu penghinaan. Menurut Djawahir, penggunaan huruf Arab itu tak lebih dari budaya pop semata, bukan mengutip dari Alquran. Pergulatan batin mereka akhirnya menjadi sebuah produk. Tempat produksinya pun akhirnya menjelma menjadi sanggar Batik Sri Asih. Produksinya jelas memiliki ciri dan karakter, yakni dengan huruf Hijaiyah. Suswahyuni berharap dengan batik yang diproduksinya itu masyarakat tak gampang dan serampangan memprotes penggunaan huruf-huruf Arab. Sepanjang tidak mengutip ayat Alquran tentu saja perlu diperlakukan sebagai budaya pop saja.  Kini Batik Hijaiyyah sudah memasuki tahun keenam. Produksi makin meningkat, bahkan pemesanan dan penjualan sudah merambah luar pulau dan luar negeri.

Masyarakat di Semarang sendiri sudah mafhum dan bisa membedakan bahwa penggunaan huruf arab sebagai materi pengungkap kegelisahan kreatif berbeda dengan mengutip Alquran.

Source http://glo-batik.blogspot.co.id/ http://glo-batik.blogspot.co.id/2016/06/inovasi-batik_12.html
Comments
Loading...