Batik Desa Asal Lamongan Siap Menyambut Lebaran

0 24

Batik asal Lamongan masih bisa dibanggakan untuk busana dalam kondisi apapun. Termasuk dalam menyambut dan merayakan hari-hari besar agama, seperti Lebaran. Batik Lamongan bisa menjadi pilihan bergengsi. Nama batiknya unik namun menarik. Batik Lamongan ini bahkan sudah menembus pasar internasional dengan omset puluhan juta.

Batik Mbah Guru, adalah batik Lamongan hasil kreasi Endang Dzunuraini (33) warga Desa Jugo, Kecamatan Sekaran Lamongan Jawa Timur. Kreasi batik yang dikembangkan Endang bermula dari mengembangkan batik lokal yaitu, batik lawasan Desa Jugo, dan berhasil mengkreasikan batik menjadi barang mempunyai nilai jual tinggi.

Disadari, batik Jugo memang tak banyak yang tahu. Munculnya batik itu bermula dari kakeknya membawa batik ini ketika ditempatkan untuk membuka pendidikan di Desa Jugo dan sekitarnya. Makanya sanggar sayapun saya beri nama batik mbah guru karena orang-orang memanggilnya kakak saya itu mbah guru.

Tak ingin karya besar kakeknya mati dan tak berbekas, Endang kemudian mulai menekuni dunia batik ini selepas lulus dari Fakultas Sastra Unair. Endang semula hanya melatih membatik di ibukota Jakarta dengan mendirikan sebuah sanggar batik yang melibatkan wilayah Jabodetabek.

Hasilnya pun luar biasa, bisa meraih juara tingkat provinsi. Dari situlah kemudian Endang berinisiatif membuat di Lamongan. Kemudian 2013 mulai merintis batik di Lamongan dengan modal. Sejak 2013 hingga saat ini, ia mempunyai dua varian batik, yaitu batik Bandeng Lele abstrak series dan culture series.

Kalau batik Bandeng Lele abstrak series lebih berkreasi dengan motif batik Bandeng Lele, lanjut Endang, untuk batik culture series lebih bercerita tentang budaya Lamongan. Culture series itu misalnya nasi boranan, tari caping dan lain-lain, yang intinya budaya Lamongan.

Awal mula berkreasi itu ia lakukan dengan modal seadanya, bahkan memulai dengan menjual hasil kreasi batiknya secara online. Kini, batik mbah guru kreasinya sudah meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan sudah diekspor ke luar negeri. Berkat perjuangannya, Endang sudah bisa memetik hasilnya, mencapai omset Rp 10 juta sampai Rp 15 juta.

Harga batik Mbah Guru bervariasi tergantung motifnya antara Rp 175 ribu hingga Rp 500 ribu. Kalau batik lukis mencapai Rp 5 juta. Sedang yang diekspor keluar negeri berupa kain syal dengan pewarnaan secara abstrak. Dan ini banyak digemari oleh peminat orang luar.

Endang kini juga mulai membuka sanggar batik sebagai tempat untuk belajar membatik. Menurutnya, banyak masyarakat yang ingin belajar membatik. Ia berharap sanggar yang dibangunnya bisa memberi dampak positif di desanya dan menumbuhkan gairah ekonomi di desa dengan melibatkan warga sekitar dari berbagai kalangan usia.

Source http://jatim.tribunnews.com/2018/05/27/batik-desa-asal-lamongan-siap-menyambut-lebaran?page=2 http://jatim.tribunnews.com
Comments
Loading...