Batik dan Batik Printing, Serupa Tapi Tak Sama

0 103

Batik dan Batik Printing, Serupa Tapi Tak Sama

Batik, menurut UNESCO, adalah teknik perintangan warna menggunakan lilin panas untuk membentuk motif tertentu. Prosesnya panjang dan rumit, serta membutuhkan kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi. Hal tersebut membuat batik tidak selalu dapat memenuhi keinginan pasar –di mana mayoritas pembeli menginginkan proses produksi cepat, dan terutama harga rendah.

Teknik ini bisa dilakukan dengan dua alat: canting dan cap. Dan sesuai dengan definisi batik menurut UNESCO, lilin yang digunakan harus berupa lilin panas –sebab seiring perkembangan zaman, cap bisa menggunakan lilin dingin.  Untuk satu lembar kain jarik dengan motif sederhana, biasanya berukuran 110 x 240 cm, dibutuhkan waktu 3-6 hari pengerjaan. Sementara, kualitas cap tersebut sangat ditentukan oleh kekuatan tekanan saat membatik. Meski sama-sama batik, baik dengan canting atau cap, namun perbedaan waktu pengerjaan tentu menimbulkan perbedaan harga pula.

Batik tulis yang menggunakan canting tentu bernilai lebih mahal –meski jika diperhatikan, motif yang dihasilkan tidak terlalu rapi dan besaran motifnya tidak benar-benar sama. Di sisi lain, pada batik tulis, salah satu ciri khas yang membedakan adalah pola motif yang nyaris tidak memiliki repetisi atau pengulangan. Batik cap biasanya diberi harga lebih rendah. Alat yang digunakan seperti stempel, dibuat sedemikian rupa sehingga motif yang dihasilkan bisa berupa repetisi rapi, nyaris tanpa cacat. Tentu saja, dalam pembuatannya tidak bisa sembarangan meletakkan motif yang sama secara berderet, namun ada rumusan tertentu yang digunakan.

Ada beberapa ciri khas yang bisa digunakan sebagai patokan bagi konsumen untuk membedakan antara batik dengan kain print. Paling mudah adalah dengan melihat permukaan kain. Pada batik, bagian depan-belakang kain selalu sama. Sementara untuk kain print, di bagian belakang relatif lebih pudar atau malah putih sama sekali. Teknologi print saat ini sudah sangat maju sehingga mampu mencetak warna bolak-balik sehingga semakin sulit dicari perbedaannya antara batik yang asli dan print. Salah satu ciri lain, pada kain print biasanya di bagian tepi berwarna putih atau bahkan pudar karena keterbatasan mesin untung menjangkau bagian ujung. Sementara pada batik, seluruh bagian kain, termasuk di tepi, terlihat berwarna. Ini karena pada proses pencelupan, semua bagian kain masuk ke dalam zat warna.

Perbedaan lain bisa dilihat dari motif. Batik, terutama batik tulis, pada dasarnya adalah pekerjaan tangan manusia yang nyaris tak mungkin benar-benar rapi. Jika dicermati, selain bentuk motif yang tidak sama (baik bentuk maupun ukuran dan ketebalan), pada beberapa bagian akan ditemukan titik aneh. Titik ini merupakan tetesan lilin panas yang tidak sengaja tertetes saat proses pengerjaan. Memang, titik-titik ini agak sulit dicari dalam satu lembar kain, namun pasti ada. Sementara untuk kain print, titik kesalahan tersebut tidak akan ada. Sebab, prosesnya serba tercetak dan terkomputerisasi sehingga bisa meminimalisasi kesalahan.

Perbedaan yang terakhir ialah jenis kain yang digunakan. Pada batik, bahan polister haram hukumnya karena sulit menyerap warna. Sementara untuk kain print (terutama print digital), hasilnya justru akan lebih baik jika menggunakan kain berbahan polister. Sebab kain katun yang menyerap warna justru akan membuat hasil print menjadi turun kualitas warnanya.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/@kumparanstyle/batik-dan-batik-printing-serupa-tapi-tak-sama
Comments
Loading...