Batik dalam Tradisi Pernikahan Jawa (2) Siraman

0 56

Batik dalam Tradisi Pernikahan Jawa (2) Siraman

Tak sekadar bagian keutuhan estetika berbusana Jawa, batik memegang peranan kuat sebagai cermin kedudukan sosial serta bentuk harapan pemakainya. Pahami penggunaan kain batik dalam tradisi pernikahan Jawa di sini. Dalam upacara ‘siraman’ busana calon pengantin wanita adalah kain batik ‘wahyu tumurun’ dan kembenan ‘kain bangun tulak’ (berlaku di Karaton Surakarta). Busana siraman kain batik wahyu tumurun dan kain bangun tulak ini memiliki makna seperti dalam tatacara tingkepan atau mitoni yaitu supaya kuat ‘kedunungan wahyu’ atau mendapat wahyu dan dijauhkan dari segala godaan dan rintangan.

Sedangkan orangtua mengenakan ‘batik cakar’ dan sabuk kemben bangun tulak. Batik cakar diambil dari sebutan kaki ayam, yang bermakna agar mempelai dapat ceker-ceker seperti ayam dalam mencari nafkahnya sendiri, tidak lagi tergantung pada orang tua. Setelah melakukan siraman, calon pengantin perempuan mengenakan kain kembangan. Inilah yang disebut sawitan, baju kebaya dan kain motifnya sama (setelan). Busana Kembangan setelan atas bawah ini melambangkan bersih tata lahir dan batinnya. Gambaran keiklasan akan meninggalkan status gadis dan menjalani hidup berumah tangga. Batik atau yang dalam Bahasa Jawa dilafalkan sebagai batik, cukup kuat memegang peranan dalam berbagai busana dalam keseharian masyarakat Jawa serta tradisinya. Lebih dari sekadar keutuhan busana, ia juga merupakan cermin kedudukan sosial serta bentuk harapan pemakainya.

Penggunaan busana Jawa juga menuntut keselarasan dengan rasa jiwa budaya. Karena busana Jawa mengandung nilai-nilai tatasusila dan kepribadiannya yang meliputi lahir dan batin manusia, seperti sabda SISKS Pakoe Boewono X, “Berbusana itu menjadi syarat membangun manusia luar dan dalam (lahir dan batin), maka sesuaikanlah pakaianmu yang cocok dengan penggunaannya, yang serasi dengan tubuhmu, kedudukan dan kepangkatanmu.” Sabda ini menuntut keserasian dalam berbusana Jawa dan ketepatan memilih busana yang sesuai dengan ukuran tubuh, acara, maupun kedudukan. Apabila seorang anak laki-laki dewasa sudah berkeinginan untuk menikah, untuk menyunting gadis menjadi dari keluarganya. Dan dalam prosesi manton tersebut, jenis kain batik yang dipakai sangat spesifik dan memiliki makna tertentu.

Source http://www.batiksemarang.com http://www.batiksemarang.com/2018/06/batik-dalam-tradisi-pernikahan-jawa-2.html
Comments
Loading...