Batik Cirebon-Indramayu, Antara Bisnis Dan Corak

0 8

Batik Cirebon-Indramayu, Antara Bisnis Dan Corak

Di satu siang yang panas dan berdebu, di pertengahan September 2018, di serambi Keraton Kanoman, Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina menunjukkan corak batik keraton karyanya, Batik Godong (Daun) Sekar Karniem (Enumeratio plantarum). Bisa jadi, inilah karya pertama corak Keraton Kanoman. Sebab, kata pengamat batik keraton, Elang Hilman, yang dihubungi terpisah di rumahnya, corak batik Keraton Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan, tidak lagi bertambah.

“Jadi sebenarnya, semua motif batik yang beredar di ketiga keraton adalah warisan Keraton Pakungwati sebelum dipecah-belah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/Perserikatan Dagang Hindia Timur) dan pemerintah Hindia Belanda.” “Warna dasar batik Pakungwati itu aslinya cuma dua, putih, dan warna gradasi kunyit terang hingga gelap atau nyepuh,” ungkap Hilman. Arimbi, sang juru bicara Keraton Kanoman pun, membenarkan. Baca juga: Motif Ikonik Mickey Mouse Hiasi Batik Kolaborasi Disney x Iwan Tirta Arimbi menjelaskan, Batik Sekar Karniem yang sudah ia paten-kan ini, sementara terbatas untuk kalangan perempuan keraton, khususnya Keraton Pakungwati

“Harapannya, kaum perempuan yang memakai batik ini, harum.” “Harum tutur kata dan perilakunya; jernih, mencerahkan, dan harum pikiran dan hatinya; bersemangat dan produktif melakukan terobosan dan inovasi, menebar keharuman di manamana,” tutur Arimbi. Kalau permintaan batik tulis ini melimpah di luar. Apakah ibu ratu mau memertimbangkan menjual kepada mereka? “Saya akan pertimbangkan kembali,” jawabnya. Ia menyampaikan hal itu karena gusar melihat kemajuan teknologi informasi bermacam motif  batik Keraton Pakungwati, cepat beredar di luar.

Persaingan dalam bisnis batik pun, kian rapat. Tampilan batik pun di luar keraton kadang lebih indah karena dikembangkan dengan bermacam warna. “Itu sebabnya saya akan memertimbangkan kembali pengembangan dan peredaran Batik Sekar Karniem antara lain lewat online,” ucap dia. Motif motif keraton Arimbi kemudian menunjukkan sejumlah corak atau motif Keraton Pakungwati, koleksi Keraton Kanoman. Batik motif naga yang dipakai oleh kaum pria keraton, terdiri dari motif Naga Utah Utahan, Naga Seba, dan Peksi Naga Liman. “Motif Naga Utah Utahan (berasal dari kata dasar muntah karena kekenyangan) mengingatkan para pemimpin dan kalangan elit agar tidak rakus.”

“Tahun 1986, Sultan ke-11 Keraton Kanoman, Raja Mukhamad Djalaludin, dan kakak saya, Sultan ke-12, Raja Emirudin, memakai kain batik ini saat serah terima jabatan sultan,” ungkap Arimbi. Motif Naga Seba, lanjutnya, mengingatkan pemakainya, agar selalu siap dipanggil Tuhan sewaktu waktu. Oleh karena itu, ada motif kangkungan yang mengingatkan pemakainya agar selalu ingat Sang Pencipta. Baca juga: Bahasa Simbol Motif Batik Motif Sumping Kresna mengingatkan pemakainya agar memakai perhiasan secukupnya, dan pada tempatnya.

“Makna lainnya, kumpulkan dan tempatkan hartamu secukupnya. Jangan berlebihan,” ujar Arimbi. Motif Liris Keris, lanjut dia, mengingatkan pemakainya agar selalu “menyandang” keris. “Keris sebagai ilmu pengetahuan untuk membedah segala rahasia alam, dan keris sebagai simbol kebijaksanaan dalam mengambil keputusan,” ucap Arimbi. Saat ini, tambah dia, Keraton Kanoman memiliki koleksi 25 motif Keraton Pakungwati. Panembahan Losari Hilman mengakui, produk kesenian Keraton Pakungwati sebenarnya didominasi karya karya Panembahan Losari.

“Dari bentuk kereta permaisari, Jempana, kereta Peksi Naga liman, dan Singobarong karyanya, ia bersama Pangeran P Nataguna menciptakan motif motif batik keraton yang kental dengan teknik seni lukis China.” “Memang ada pengaruh lain seperti India, Persia, dan Arab, tetapi kurang begitu kental,” paparnya, pekan lalu. Salah satu contoh corak yang paling populer adalah motif mega mendung dan wadasan. Motif mega mendung diambil dari motif “payung” di kereta Jempana yang diadopsi dari awan pada lukisan klasik China, sedang motif wadasan terinspirasi oleh Gua Sunyaragi.

“Megamendung dan wadasan bedanya cuma yang satu horizontal, dan yang lain vertikal,” kata Hilman. Bentuk arsitektur bangunan keraton Pakungwati termasuk taman tamannya, dan kereta kereta keraton yang berakar dari sosok mitologi pun, lanjut Hilman, juga menjadi inspirasi untuk motif motif batik Pakungwati yang dibuat Pangeran Losari dan Pangeran Nataguna. Peneliti sejarah keraton di Cirebon, Farihin, yang ditemui terpisah membenarkan apa yang di sampaikan Hilman. Ia menjelaskan, Panembahan Losari, atau Pangeran Angkawijaya yang dimakamkan di Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, tahun 1580, adalah cucu Sunan Gunung Jati.

“Beliau putra pasangan Ratu Wanawati, Pakungwati, dengan seorang pria, putra keturunan Raja Demak, Pangeran Dipati Carbon,” papar Farihin. Panembahan Losari, lanjutnya, memilih meninggalkan keraton dan tinggal di satu pedukuhan di tepi Sungai Cisanggarung (perbatasan Cirebon dan Brebes), yang kemudian menjadi tempat dia dimakamkan, dan dinamai Desa Losari. “Alasannya, seperti dikutip Kitab Purwaka Caruban, beliau menghindari pertengkaran soal perjodohan dengan sang kakak, Panembahan Ratu. Baca juga: Rayakan Kemerdekaan, Kunjungi Pameran Batik Peranakan Selain itu, beliau ingin menepi, menjauh dari hiruk pikuk dan kemewahan keraton,” ucap Farihin.

Source https://lifestyle.kompas.com https://lifestyle.kompas.com/read/2018/09/24/213624420/batik-cirebon-indramayu-antara-bisnis-dan-corak?page=all
Comments
Loading...