Batik Ciprat Hasil Karya Warga Tunagrahita di Ponorogo Banjir Pesanan

0 30

Batik Ciprat Hasil Karya Warga Tunagrahita di Ponorogo Banjir Pesanan

Selembar kain polos tampak dijemur di depan rumah. Terlihat seorang wanita sibuk menciprat-cipratkan pewarna menggunakan kuas, sembari sesekali mengambil cairan malam di dekatnya. Setelah didekati hendak ditanya, dia justru menjawab dengan bahasa isyarat.  Rupanya, wanita pembuat batik ciprat yang diketahui bernama Boini salah satu warga yang menderita tunagrahita.

Warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo, ini memang dikenal sebagai kampung idiot, Itu karena banyaknya jumlah warga yang mengalami tunagrahita atau keterbelakangan mental. Jumlahnya pun mencapai 98 orang. Meski seiring perkembangan zaman, jumlah tunagrahita itu semakin lama semakin turun.

Selesai dengan teknik menciprat-cipratkan cairan malam, Boini pun berganti dengan pewarna kain. Kali ini yang dipilihnya warna biru. Boini pun mewarnai kain tersebut menggunakan busa untuk mewarnai. Sesekali tampak sang pendamping, Setyo Budi mengarahkan tehnik pewarnaan kepada Boini. Setyo mengaku Boini memang terampil membuat batik ciprat, salah satu hasil produksi warga binaan tunagrahita. Selain Boini, juga ada Tukijo yang juga pandai membuat batik ciprat khas Karangpatihan.

Ia menambahkan dalam satu hari, warga tunagrahita ini bisa membuat 20-40 lembar kain. “Prosesnya ciprat-ciprat cepat yang lama proses pewarnaannya,” imbuhnya. Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi menjelaskan pembuatan batik ini merupakan salah satu program dari kemensos yang ingin memberdayakan masyarakat tunagrahita dalam memperbaiki taraf hidup.

Melalui Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita, Temanggung, Jateng selama satu tahun di Desa Karangpatihan, didapatkan produk batik ciprat yang dibuat di rumah harapan, pusat latihan kerja.

Uniknya, batik ciprat karya warganya ini bisa dipastikan hasilnya akan berbeda antara satu kain dengan yang lainnya. Sebab, diproduksi secara manual bukan cetakan. Bahkan jika ada pemesan hanya ada satu lembar pun juga dikerjakan.

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,15×1,15 meter dihargai Rp 150-200 ribu, tergantung kesulitan motif. “Kami juga bisa melayani motif yang diinginkan, nanti ada pendamping yang mengarahkan membuatkan motif,” tegasnya. Saat ini, total ada 98 warga tunagrahita yang dibina. Selain membuat batik ciprat, mereka juga bisa membuat keset, tasbih bahkan ada pula yang beternak lele, ayam dan kambing.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3856143/batik-ciprat-hasil-karya-warga-tunagrahita-di-ponorogo-banjir-pesanan
Comments
Loading...