Batik Ciamis Kisah Manis Yang Berjuang Hidup Kembali

0 48

Batik Ciamis Kisah Manis Yang Berjuang Hidup Kembali

Batik Ciamis di masa sulitnya sempat bertahan hidup dengan memproduksi motif batik sablon dan printing. Namun gugur oleh dampak ekonomi nasional. Kemudian bangkit kembali oleh orang-orang yang menginginkan Batik Ciamis tetap manis dinikmati. Terdapat Koperasi Rukun Batik yang didirikan tahun 1939, menaungi 600 anggota dari kalangan perajin batik dan memenuhi berbagai kebutuhan material pembatikan. Ciamis yang senyap dengan berbagai ekspos dewasa ini, sebenarnya telah memiliki sejarah panjang dan besar tentang kisah keberadaan Kerajaan Galuh di abad ke-7 yang dipimpin oleh Ciung Wanara Sang Manarah. Wilayah kekuasaannya sempat mencapai Banyumas hingga Citarum. Cagar Budaya Astana Gede yang terletak di sebelah utara Kota Ciamis disinyalir sebagai salah-satu cikal bakal bukti keberadaan kerajaan Sunda yang dibangun oleh Prabu Niskala Wastu Kancana. Di abad 17, Ciamis berubah menjadi kabupaten dikarenakan invansi Mataram menuju Banten dan Batavia. Di tahun 1916 oleh Bupati R.T.A. Sastrawinata (1915 – 1935) kabupaten yang sempat bernama Galuh diubah menjadi Ciamis. Wilayah Ciamis berbatasan dengan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka di sebelah utara, Kabupaten Cilacap di sebelah timur, Kabupaten Tasikmalaya di sebelah barat, dan Samudera Hindia di sebelah selatan.

Sikap guyub masyarakatnya menghidupkan industri batik dengan berkumpulnya para perajin batik dalam wadah koperasi. Terdapat Koperasi Rukun Batik yang didirikan tahun 1939, menaungi 600 anggota dari kalangan perajin batik dan memenuhi berbagai kebutuhan material pembatikan. Seiring waktu, jumlah anggota koperasi tersebut bukannya makin bertambah, justru makin menurun dan tercatat data terakhir keanggotaannya berjumlah 424 orang. Dari 424 anggota, hanya delapan orang anggota yang akhirnya berusaha mempertahankan keberadaan batik Ciamis meski pembuatannya dengan cara sablon maupun printing.

Keberadaan Koperasi Rukun Batik di Ciamis mengikuti jejak langkah Koperasi Mitra Batik Tasikmalaya yang dibuat di tahun yang sama. Masa keemasan batik Ciamis terjadi di era 1960-an hingga 1980-an dengan menyedot tenaga kerja 1200 orang. Pemasarannya tidak hanya lokal tetapi juga luar wilayah Ciamis dan sempat bersaing dengan dominasi batik asal Solo, Yogyakarta, maupun Pekalongan. Dampak ekonomi yang terjadi deras di 1980-an menyusutkan jumlah perajinnya dan di tahun 1997 batik Ciamis praktis padam dari kegiatannya diakibatkan krisis moneter. Untuk memunculkan eksistensinya kembali, di tahun 2001 dibuat Konvensi Batik se-Jawa Barat.

Disusul kemudian dengan sarasehan batik Jawa Barat oleh Yayasan Batik Jawa Barat dengan topik utama “Batik Ciamis, Jangan Hanya Menjadi Kenangan Manis” di tahun 2008. Lomba desain Motif Batik Ciamisan pun dibuat bersamaan dengan kegiatan lainnya seperti seminar, workshop, dan pamer dagang. Saat UNESCO memberkati batik Indonesia dengan penobatan warisan dunia tak-benda, dampak untuk memotivasi kemunculan batik tertular di berbagai belahan Indonesia, termasuk Ciamis. Mengenal Batik Ciamis tidak terlepas dari pengaruh wilayah di Jawa Barat yang terkenal dengan penghasil batik terbaik seperti Indramayu dan Cirebon. Pembentukan karakter warna dan komposisi motif batik Ciamis juga datang dari Solo dan Yogyakarta dan menghasilkan khas. Batik Ciamis bernama batik Sarian. Untuk gaya pembuatan motifnya, batik Ciamis menganut konsep naturalis, dengan penggambaran flora fauna serta elemen-elemen dari lingkungan alam sekitar.

Untuk motif khas, Batik Ciamis menggunakan bentuk geometris seperti yang terdapat pada Motif Ciung Wanara, Parang Sontak, dan komposisi Motif Rereng. Motif non geometris digunakan untuk pengisi latar atau bentuk atau selingan seperti kembang, dan pangkah. Sedangkan makna filosofis yang terkandung dalam batik Ciamis nyaris tidak ada, karena penggambaran motif tersebut didasarkan oleh hal sebenarnya. Ragam motif batik Ciamis diperkaya kembali dengan berbagai fakta sejarah maupun lingkungan sekitarnya seperti mengadaptasi sejarah Galuh Pakuan, Bunga Tarutung, Taman Raplesia, dan Ciung Wanara.

Sedangkan motif yang didasari oleh lingkungan sekitar terdapat pada motif Batu Hiu yang diambil dari keberadaan benda tersebut di Pantai Pangandaran. Motif lawasan Batik Ciamis diantaranya adalah Suliga Adumanis, Belah Ketupat, Parang Sontak, Rereng Seno, dan Rereng Eneng. Motif-motif ini bertransformasi dengan kebaruan zaman yakni memadukan motif lawasan dengan pewarnaan terkini yang disukai masyarakat. Kebangkitan batik Ciamis atau batik Ciamisan tidak terlepas dalam selera pasar yang menghendaki industri batik tersebut tumbuh kembali. Butuh sosialisasi masif meski kesenyapan industrinya masih melanda.

Source https://www.batiklopedia.com/ https://www.batiklopedia.com/batik-ciamis-kisah-manis-yang-berjuang-hidup-kembali/
Comments
Loading...