Batik Canting Wira, Sering Juara Pertahankan Eksklusivitas

0 34

Batik Canting Wira, Sering Juara Pertahankan Eksklusivitas

Ada alasan di balik pemberian label ‘Batik Canting Wira’. Ini tidak lepas dari persyaratan yang ditetapkan untuk mendapatkan Hak Paten. Semula mereknya hanya ‘batik canting’, namun karena nama merek tidak bisa benda, akhirnya diberi tambahan ‘Wira’ di belakang kata Canting. Wirasno sendiri sesungguhnya bukan ‘arek’ Suroboyo, melainkan dari Pekalongan yang juga dikenal sebagai sentra penghasil batik. Namun karena sudah 15 tahun tinggal di ibukota Jawa Timur ini, maka budaya dan karakter orang Surabaya sudah begitu mengental dalam dirinya.

Dan siapa sangka, perpaduan antara dua karakter yakni Surabaya dan Pekalongan yang telanjur mengalir dalam tubuhnya,  justru menjadi ‘kekuatan’ tersendiri dalam melahirkan batik-batik yang begitu memikat. Terbukti di kancah lomba batik level Nusantara, Batik Canting Wira sering menyabet predikat juara. Di antaranya Juara I Lomba Cipta Seni  Batik Nusantara tahun 2012 untuk kategori fashion, Juara umum UKM Award 2012 Semen Indonesia. Selain ditetapkan sebagai juara umum, Canting Wira juga menggondol gelar juara untuk kategori Peduli Lingkungan. Prestasi lainnya, Juara III Lomba Batik Nusantara tahun 2013 dan beberapa kali menjadi finalis untuk event serupa.

“Untuk tahun 2014 ini saya sengaja tidak ikut lomba lagi untuk memberi peluang pada perajin-perajin batik lain yang juga punya potensi,” kata pria yang memiliki galeri batik di kawasan Jambangan Surabaya ini ketika ditemui mysharing belum lama ini.

Berawal dari Pedagang Batik

Sebelum menjadi perajin batik, karier Wirasno ternyata sama sekali tidak ‘bersentuhan’ dengan dunia ‘canting’. Dia menekuni karier sebagai karyawan di perusahaan trading internasional. Sampai pada suatu hari dia tertarik untuk coba-coba berdagang batik. “Batik yang saya jual tidak hanya dari Pekalongan, tapi dari berbagai daerah,” ungkap pria yang belum lama ini dikukuhkan sebagai Wakil Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (APBJ) periode 2014-2017.

Namun dia berpikir kalau menjadi ‘pedagang’ maka selamanya dia harus siap ‘perang’ harga dengan pedagang yang lain. “Kalau produk saya lebih mahal dibanding lawan, ya pembeli akan lari ke tempat lain demikian pula sebaliknya. Kapan suksesnya kalau seperti itu terus? Nah, saya ingin keluar dari situasi itu, kalau semula hanya menjadi pedagang saya ingin menjadi perajin batik,” papar pria yang akrab dipanggil Wira ini berkisah.

Pada tahun 2005 dia memutuskan untuk beralih profesi sebagai pembatik. Awalnya, dalam melahirkan karya-karyanya Wira memilih mengikuti tren yang ada di masyarakat saat itu. Seiring perjalanan waktu, jam terbang Wirasno di dunia perbatikan semakin matang, tak lagi mengikuti arus. Dua tahun kemudian dia mulai menemukan karakternya sebagai perajin batik. Diakui Wira, budaya daerah asalnya yakni Pekalongan dan Surabaya tempat tinggalnya selama 15 tahun ini saling mempengaruhi dalam melahirkan karya-karyanya.

Hasilnya? “Batik-batik saya lebih dinamis, lepas dari pakem. Demikian juga dengan warnanya, warna batik saya cenderung memberi kesan cerah, karena saya lebih menyukai yang kontras. Ciri khas masyarakat pesisir sangat kuat. Pekalongan dan Surabaya khan sesungguhnya masih satu garis geografis khan. Jadi benar-benar kuat,” jelasnya. Selain warna-warna cerah, merah, hijau, kuning dan warna-warna terang lainnya, ciri khas Batik Canting Wira terletak pada penggunaan garis tepi di setiap motifnya. Bila pada batik lain, garisnya cenderung tipis, maka garis tepi motif batik Wira cenderung tebal dengan warna-warna yang terang.

Meski sama-sama pesisir, Wira tegas-tegas mengatakan batiknya sangat berbeda dengan batik Madura. “Goresan batik Madura lebih ekspresif, itu bisa dilihat dari garisnya, antara bagian yang satu dengan yang lain garisnya terputus. Sementara batik Jawa Timur secara umum mengikuti pola, bagian yang satu dengan yang lain ‘nyambung’ satu garis. Itu sebabnya batik Madura terkesan tidak bersih. Namun ‘tidak bersih’nya itulah yang menjadi kekuatan, dan akhirnya menjadi ciri khasnya,” jelasnya.

Eksklusif

Wira tergolong perajin batik yang ‘pelit’ dalam produksi. Terbukti, walaupun karya-karya batiknya sering menyabet juara, dia tak ingin memanfaatkan nama ‘Batik Canting Wira’ yang mulai berkibar di Nusantara ini semata-mata untuk tujuan bisnis yakni mengejar keuntungan. Sebaliknya, dalam bekerja, jiwa seni Wira lebih kental mengemuka ketimbang sisi bisnisnya. Itu sebabnya untuk satu lembar kain batik, Wira mengaku membutuhkan waktu 1 bulan lebih. “Batik kami punya ruh, proses pengerjaannya dilakukan dengan kesungguhan hati. Beda kalau yang dilakukan untuk tujuan komersiil, ruhnya nggak kuat,” ucap pria yang tidak ingin menyebutkan harga batiknya itu.

Yang pasti, kata dia, segmen batik Canting Wira adalah kelompok masyarakat kelas menengah atas. Mengingat proses pengerjaan selama itu jangan heran kalau batik Canting Wira terkesan tak banyak dijumpai di pasaran. Maklum saja, selain harganya yang tidak murah, Wira memang sengaja menjaga ekslusivitasnya. “Saya memang diminta pelanggan saya untuk tidak terlalu meng-explore produk saya.

Dengan demikian kesan eksklusivitasnya tetap terjaga. Saya setuju. Bagi saya itu sebuah komitmen dengan pelanggan saya. Awalnya memang sebagai pengorbanan, tapi sekarang saya melihat itu sebagai bentuk apresiasi karena mereka sudah menghargai karya-karya saya. Ketika membeli batik saya, tentunya mereka bukan sekadar membeli tapi ada kebanggaan karena busana yang dipakai eksklusive,” ujar pria yang merupakan binaan Semen Indonesia ini memberi alasan.

Source http://mysharing.co http://mysharing.co/batik-canting-wira-sering-juara-pertahankan-eksklusivitas/
Comments
Loading...