Batik Bertema Kearifan Lokal Diapresiasi Dunia

0 138

Batik Bertema Kearifan Lokal Diapresiasi Dunia

“Eksistensi batik tidak pernah padam”, kalimat tersebut menggambarkan bagaimana batik senantiasa lestari meski zaman silih berganti. batik yang merupakan seni yang berasal dari Jawa ini, nyatanya masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Tidak hanya masyarakat lokal, kini batik mampu menembus pasar mancanegara.

Berbagai pagelaran busana bertaraf internasional mampu menjadi media pengenalan batik ke kancah dunia. Terjaganya kelestarian batik tentu tidak terlepas dari peran penggiat seni batik yang terus berkarya dan berupaya agar batik dapat mengikuti perkembangan zaman.

Nita Azhar, seniman sekaligus perancang busana senior asal Yogyakarta, hingga saat ini tetap konsisten dalam melestarikan batik. Berangkat dari lingkungan sekitarnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, serta kecintaannya terhadap seni dan fashion, ia memantapkan diri untuk menekuni seni busana yang mengangkat batik sebagai ciri khasnya.

“Sangat beruntung bahwa saya lahir di lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Berbekal rasa cinta pada budaya, minat saya di bidang seni dan fashion membawa saya untuk lebih menekuni batik sebagai salah satu kearifan lokal peninggalan budaya bangsa menjadi sarana diplomasi dalam industri kreatif sebagai ekspresi dan visualisasi rasa tanggung jawab dalam upaya melestarikan budaya,” tuturnya pada KR Jogja belum lama ini.

Baginya melestarikan batik bukan sekedar memproduksi dan menjualnya ke pasaran, namun penyampaian pesan serta filosofi yang terdapat pada kain batik kepada masyarakat merupakan hal utama yang harus diperhatikan, sehingga batik tidak kehilangan esensinya yang sarat akan makna.

“Selain motif, hal terpenting adalah filosofi dan nilai-nilai yang terkandung dalam rancangan busana tersebut. Artinya, bukan sekedar memindahkan gambar ke dalam sehelai kain/busana tetapi esensi dari kearifan lokal tersebut yang harus kita sampaikan. Untuk saya, batik adalah karya seni yang layak untuk dikoleksi dan mempunyai filosofi tinggi. Itu mengapa saya tidak pernah memotong-motong batik dalam merancang busana, kecuali batik yang dikhususkan menjadi busana,” ujarnya.

Bergelut di dunia fashion sejak bertahun-tahun lalu, membuat nama Nita Azhar menjadi dikenal berbagai kalangan. Menurutnya, mengangkat tema kearifan lokal menjadi senjata ampuh menuju ke tingkat Internasional. Tidak sedikit karyanya yang mendapat apresiasi dari tingkat dunia, seperti karyanya yang bertema Wayang Beber yang berhasil ia presentasikan di Kuala Lumpur Fashion Week pada tahun 2004. Tak hanya itu, ia juga dipercaya sebagai perancang busana untuk perhelatan Miss Universe selama tiga tahun berturut-turut.

“Sebagai pelaku industri kreatif, tema-tema kearifan lokal menjadi senjata yang sangat ampuh dalam diplomasi internasional karena sifatnya yang etnosentris, sehingga menjadi unik karena tidak terdapat di tempat lain. Sebagai contoh misalnya, Wayang Beber yang saya presentasikan dalam peragaan busana di Kuala Lumpur Fashion Week pada tahun 2004, atau pun tema-tema kearifan lokal yang saya presentasikan melalui rancangan busana yang dikenakan oleh Miss Universe selama 3 tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2001 oleh Denise Quinonese dari Puertorico, tahun 2002 oleh Oxana Federova dari Rusia, dan tahun 2003 dikenakan oleh Amelia Vega dari Republik Dominica” tuturnya.

Lebih lanjut, Nita Azhar mengungkapkan bahwa terangkatnya batik di mata dunia dapat memberikan keuntungan pada ekonomi negara khususnya bidang pariwisata. Sehingga apabila pertumbuhan industri batik semakin berkembang, maka juga akan berdampak pada naiknya taraf ekonomi jutaan pengerajin batik.

“Batik sebagai ikon budaya yang harus kita promosikan kepada dunia, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pariwisata Indonesia. Ini adalah keunggulan komparatif bagi dunia pariwisata yang tentunya akan berdampak pada keuntungan secara ekonomi. Ketika batik makin digemari, pertumbuhan industri batik akan naik secara signifikan. Hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Karena batik sebagian besar merupakan industri yang melibatkan ribuan bahkan jutaan  pengrajin yang notabene adalah rakyat kecil” tutupnya.

Source http://krjogja.com/ http://krjogja.com/web/news/read/83741/Nita_Azhar_Batik_Bertema_Kearifan_Lokal_Diapresiasi_Dunia
Comments
Loading...