Batik Bengkulu Kain Besurek Peninggalan Sentot Alibasyah

0 272

Batik Bengkulu Kain Besurek Peninggalan Sentot Alibasyah

Batik khas Bumi Raflessia ini sesuai budaya setempat yang kental dengan pengaruh Islam. Batik kreasi dari Bengkulu biasa disebut kain besurek. Budayawan Bengkulu Alcala Zamora menjelaskan, nama kain besurek dari bahasa Bengkulu. Kata tersebut berasal dari suku kata “be” termasuk awalan dengan pengertian “ber” dan “surek” yang berarti “surat” atau “tulisan”. Terjemahan bebas dari kata ‘besurek’ adalah ‘bersurat’ atau ‘bertulisan’. Kain besurek berarti kain yang telah dipenuhi dengan surat atau tulisan berciri tulisan kaligrafi Arab. “Pada abad 16 Islam sudah berkembang pesat di daerah Bengkulu, kebudayaan Islam sangat berpengaruh pada perkembangan seni budaya di Bengkulu, pengaruh luar masuk ke Bengkulu sejalan dengan datangnya pedagang bangsa India, China, Eropa dan Bangsa Arab,” jelas Alcala.

Kain Besurek sudah mengakar di masyarakat Kota Bengkulu pada masa itu, terbukti dari kekhasan motifnya kaligrafi tulisan huruf Arab. Sejarah awal pertumbuhan kain besurek belum diketahui secara pasti. Menurut pemuka adat maupun pemuka masyarakat Bengkulu, penggunaan kain besurek sudah sejak lama dan pada upacara-upacara adat khususnya di Kota Bengkulu. Ada teori yang menyebutkan sejarah awal perkembangan kain besurek di Bengkulu bermula sejak hijrahnya Sentot Alibasyah, panglima Pangeran Diponegoro, serta sanak saudara dan pengikut-pengikutnya ke Bengkulu. Terbukti pada awalnya ternyata masyarakat pemakai dan perajin kain besurek sebagian besar dari keturunannya.

Penggunaan kain besurek pada mulanya hanya terbatas untuk upacara-upacara adat seperti dipakai untuk pengapit pengantin pria khususnya “destar” atau topi khas Bengkulu pada prosesi pernikahan. Untuk acara calon pengantin putri juga digunakan saat prosesi pemandian, siraman, bedabung atau mengikir gigi, ziarah kubur, akad nikah hingga upacara perkawinan, sampiran bilik pengantin. Perkembangan kain besurek di Bengkulu hingga kini demikian pesat, mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Penggunaannya pun tidak lagi terbatas pada perayaan atau upacara adat, melainkan telah digunakan untuk berbagai keperluan seperti busana kerja dan busana resmi kegiatan di daerah.

Source http://www.liputan6.com/ http://regional.liputan6.com/read/2615976/batik-bengkulu-kain-besurek-peninggalan-sentot-alibasyah  http://lifestyle.liputan6.com/read/2615725/ramaikan-hari-batik-nasional-dengan-batik-asli-dari-alam
Comments
Loading...