Batik Belitung Timur, Kisah Mencipta Ikon

0 23

Batik Belitung Timur, Kisah Mencipta Ikon

Penciptaan selembar kain batik tulis adalah proses intim dan eksklusif. Tak ada duplikasi, bahkan ketika lahir dari jari-jari pembatik yang sama. Motif boleh sama, tapi hasil akhirnya pasti berbeda. Terkadang perbedaannya hanya tertangkap oleh selidik mata jeli. Itulah yang membuat batik tulis sangat istimewa. Lembaran kainnya berisi cerita ketelatenan, ketekunan, filosofi, dan identitas. Proses pengerjaan selembar batik tulis seringkali memakan bilangan bulan. Pembatik bukan hanya mengejar corak perlambang keindahan, tapi harus melestarikan filosofi yang terkandung dalam motif yang dibuat. Motif juga melambangkan identitas suatu daerah.

Nilai-nilai itulah yang mendasari lahirnya Batik Belitung Timur (Beltim). Kabupaten yang baru terbentuk pada 2003 itu sedang giat mengembangkan sektor pariwisata dan merasa butuh ikon-ikon penegas identitas dan penunjang promosi, salah satunya kain khas daerah. Ketika Palembang punya songket, Sumatra Utara memiliki ulos, kemudian Solo, Jogja, Lasem, dan Pekalongan bangga dengan batik, Klaten punya lurik dan sejumlah daerah bersinar dengan kain tenun, Beltim tak memiliki apa pun.

Batik-batik Beltim didominasi warna cerah yang eye catching, seperti merah, oranye maupun kuning. Lalu seperti apa motifnya? Nah, disinilah Beltim menegaskan identitas mereka. Untuk membedakan dengan daerah lain, Belitung Timur menciptakan motif tersendiri. Ada motif buah Keremunting, yang dijuluki anggurnya masyarakat Bangka Belitung. Ada juga motif Ikan Cempedik, yaitu sejenis ikan air tawar yang hidup di Belitong, dan banyak ditemukan di perairan sungai lenggang di Belitung Timur. Daun Simpor yang banyak dijumpai dalam keseharian masyarakat setempat juga dipilih sebagai motif.

Yang paling unik tentu saja motif gelas kopi yang asapnya mengepul. Sebagai wilayah yang menjuluki diri sebagai Kota 1001 Warung Kopi, Belitung seakan ingin mengukuhkan julukan itu melalui motif batik. ”Pada awalnya kami hanya membuat motif asal-asalan saja. Tapi sekarang motif-motif batik Belitung Timur sudah dipatenkan,” begitu cerita salah satu perajin batik Beltim, Ibu Riwani, yang saya jumpai di sanggar tersebut.

Cita-cita Beltim mengangkat batik sebagai salah satu ikon pariwisata masih butuh jalan panjang dan berliku. Mulai dari mengedukasi masyarakat secara kontinyu, melebarkan jaringan pemasaran, dan tentu saja menggencarkan promosi. Perjuangan ini pantas didukung. Saya berharap suatu saat nanti batik mampu menjadi ornamen penting pariwisata Beltim dan bisa berdiri sejajar dengan batik-batik legendaris dari Jogja, Solo, Lasem, Pekalongan, Madura maupun daerah-daerah lain.

Source https://usemayjourney.wordpress.com/ https://usemayjourney.wordpress.com/2014/10/03/batik-belitung-timur-kisah-mencipta-ikon/
Comments
Loading...