Batik Bagelen Kejayaan Kebudayaan Mataram di Purworejo

0 53

Batik Bagelen Kejayaan Kebudayaan Mataram di Purworejo

Pada Zaman dahulu daerah Purworejo dikenal dengan sebutan Tanah Bagelen, daerah ini sangat disegani daerah lain karena memiliki peranan penting dalam penyebaran sejarah Islam. Beberapa dari pasukan Bagelen juga aktif dalam dunia militer. adanya campur tangan bangsa Belanda membuat wilayah Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tanah Bagelen pun ikut merasakan dampak pembagian daerah tersebut. Menurut perjanjian Giyanti Tahun 1755 wilayah Bagelen dibagi menjadi dua yaitu separuh di Yogyakarta dan separuh di Surakarta.

Dilihat dari sejarahnya Kabupaten Purworejo dulu disebut tanah Bagelen. Setelah Perang Jawa, tanah Bagelen dijadikan Karesidenan Bagelen dengan beberapa kadipaten, di antaranya Semawung (Kutoarjo), Purworejo, Kebumen, dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan). Kadipaten Purworejo menjadi ibukota. Kabupaten Purworejo selain menyimpan kekayaan alamnya juga menyimpan kekayaan seni budaya. Sebuah karya agung yang ditorehkan melalui karya batik. Melalui kain batik, para pengrajin batik menggambarkan nilai-nilai filosofis yang berkaitan dengan kehidupan di Purworejo, kemudian berkembang sampai dengan motif batik kontemporer.

Peran Bagelen sangatlah menonjol pada perkembangan Kerajaan Mataram, baik Mataram Hindu maupun Mataram Islam. Pada masa Galuh – Tarumanegara, Bagelen mulai dikenal sebagai pusat agama Syiwa Budha di Jawa Tengah. Leluhur Bagelen adalah keturunan Raja Syailendra sehingga meninggalkan warisan arkeologi berciri lingga – yoni yang khas masanya. Latar belakang yang dinapasi keagamaan yang beragam menjadikan Bagelen kaya akan tradisi – tradisi seni budaya. Motif klasik Semen Romo Ngarak, yang biasa dikenakan para adipati pada pelantikan, biasanya didatangkan dari Bagelen. Motif ini diperkirakan ada sejak berkuasanya wangsa Syailendra pada abad ke-8.

Komunitas pembatik tradisional Purworejo bertebaran di Kutoarjo, Kemanukan, desa Dudu Kulon dan desa Dudu Wetan. Meski masih mengabdi pada motif – motif klasik, mereka mengembangkan motif – motif baru mengikuti tuntutan waktu. Purworejo disebut dalam buku – buku sejarah karena merupakan tempat kelahiran banyak tokoh bangsa, seperti penggubah lagu “Indonesia Raya” W.R. Supratman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Oerip Soemohardjo (pendiri TNI), Kasman Singodimejo (tokoh pergerakan 1945), Jan Toroop (Pelukis Belanda), dan A.J.G.H. Kostermans (pakar botani).

Source http://indonesianbatik.id/ http://indonesianbatik.id/2018/01/27/batik-bagelen-kejayaan-kebudayaan-mataram-di-purworejo/
Comments
Loading...