Batik Allusan Kini Unjuk Gigi di Jogja Fashion Week 2017

0 43

Batik Allusan Kini Unjuk Gigi di Jogja Fashion Week 2017

Kabupaten Sleman, Yogyakarta terkenal sebagai sarang pembatik. Namun, tak semua perajin batik mampu bertahan menghadapi persaingan. Salah satunya adalah PT. Batik Allusan milik keluarga Sri Lestari. Industri batik ini sempat terhenti pada tahun 1970-an, saat sang Ibu memutuskan berhenti membatik karena hasilnya tak sesuai harapan dan tak bisa diandalkan. Inilah yang justru memacu tekad Sri untuk merintis kembali usaha batik. Ia ingin membuktikan, bisnis kain tradisional ini bisa menjadi sumber penghidupan.

Harapannya terwujud. Berkat kerja keras, usaha yang dirintis sejak Maret 2005 itu sukses. Nama Sri Lestari pun populer di Dusun Jodag, Sleman. Supaya bisa bersaing, sejak awal Sri Lestari sudah menetapkan target pasar khusus. “Prinsip saya target pasar tidak boleh setengah-setengah. Kalau menengah atas, harus menengah atas sekalian, jangan menyerempet ke menengah bawah juga,” tuturnya. Memang konsekuensinya kualitas batik harus memenuhi keinginan pasar tersebut, yang cenderung berselera tinggi.

Batik Allussan menawarkan kain batik tulis dan batik cap, dengan ukuran 1,15 meter x 2 meter. Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 50.000 hingga Rp. 6,5 juta per lembar. Jenis-jenis batik yang dibuat oleh batik Allusan yaitu batik bahan cotton, sutra, pakaian jadi, dan kerajinan. Lantaran membidik kelas menengah ke atas, Sri Lestari pun membuka galeri di sejumlah mall dan hotel.

Di antaranya yaitu di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Galeria Mall Yogyakarta, Hotel Santika Yogyakarta dan Slipi Jakarta, dan Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Batik Allussan bisa menghasilkan sekitar 300 lembar batik tulis, dan 2.000 lembar batik cap setiap bulannya. Tak heran jika Sri Lestari bisa meraup omzet ratusan juta sebulan. Uniknya, dalam proses produksi, Sri Lestari tidak merekrut perajin dari luar. Namun ia membangun sistem kemitraan dengan tetangga di sekitar rumahnya.

Sistemnya, anggota kemitraan mengambil bahan baku berupa kain putih yang sudah digambar motif, serta alat-alat membatik seperti canting dan malam dari Sri. Kemudian mereka membatik di rumah masing-masing. Jika sudah rampung, mereka menyerahkan hasilnya kepada Sri Lestari. Para pekerja diberi upah untuk setiap lembar batik, tergantung tingkat kerumitan motif.

Menurutnya, konsep ini merupakan bentuk gotong royong dalam memajukan perekonomian warga di sekitar. Selain batik tulis, para tetangga yang diberdayakan Sri juga memproduksi batik cap. Namun, pada dasarnya mereka hanya sebagai tenaga kerja, bukan konseptor motif. Untuk pemilihan dan menggambar motif pada kain batik tulis, Sri Lestari dan suami yang mengerjakan.

Sebelum menyerahkan pengerjaan batik, ia terlebih dahulu mengajarkan cara membatik tulis. Ia memang mewarisi keahlian membatik dari ibu dan neneknya. Maklum, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kegiatan membatik. Kecintaan pada batik pulalah yang mendorongnya memulai kembali bisnis batik yang pernah terhenti. Hingga pada tahun 2015, PT Allusan Batik miliknya berhasil meraih penghargaan produktivitas Paramakarya dari Presiden Joko Widodo. Tak ingin kalah dari persaingan lagi, kini Batik Allusa tampil dalam Jogja Fashion Week 2017 bersama dengan 170-an umkm fashion lainnya.

Source https://www.bernas.id/ http://www.bernas.id/amp/46085-sempat-terhenti-hingga-meraih-penghargaan-batik-allusan-kini-unjuk-gigi-di-jogja-fashion-week-2017.html
Comments
Loading...