Banten dalam Motif Batik

0 192

Banten dalam Motif Batik

Dalam mencintai kebudayaan leluhur dan usahanya untuk mengembangkan nilai-nilai seni hias dari masa lalu, masyarakat Banten menghadirkan sebuah upaya untuk memunculkan ragam jenis hiasan tersebut yang kemudian disebut sebagai Batik Banten Mukarnas. Dari masa prasejarah hingga ke masa Islam menghasilkan ragam hias berbentuk tumpal atau pucuk rebung, yang berubah interpretasi pemaknaannya, pada masa Islam diisi dengan makna Mukarnas (perukunan). Ragam hias Batik Mukarnas tidak hanya ditemukan pada fragmen gerabah dan keramik saja, tetapi juga ditemukan pada ornamen masjid Agung Banten pada bagian sisi-sisi atapnya dan pada nisan-nisan kubur, juga pada iluminasi naskah-naskah kuno Banten. Kemampuan lokal dalam menyerap dan mengolah kebudayaan luar menurut H.G. Quaritch Wales disebut sebagai Local Genius. Karakteristik Local Genius menurut Soerjanto Poespowardojo antara lain mampu bertahan terhadap budaya luar, mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mempunyai kemampuan mengandalikan dan mampu memberikan arah pada perkembangan budaya.

Keterbukaan rakyat Banten pada masa lalu terhadap kebudayaan luar dalam hal ini kebudayaan yang berasal dari Eropa yang berupa arsitektural bangunan menara Masjid Agung Banten dan bangunan Tiamah bergaya arsitektur Indis. Menara Masjid Agung Banten berbentuk seperti mercusuar khas Eropa. Kedua bangunan berarsitektur Eropa itu dirancang oleh Hendrik Lucas Caardel, seorang Belanda yang memeluk Islam pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa. Dapat dilihat bahwa rakyat Banten pada masa itu mempunyai kemampuan mengakomodasi, mengendalikan dan memanfaatkan budaya asing untuk perkembangan budayanya sendiri.

Ada ungkapan yang menyebutkan dengan bahasa sunda adalah “…lain urang Banten, ari teu ngaleeut ci Banten mah…” kalimat tersebut mengandung arti “bukanlah orang Banten, kalau dia tidak minum air dari Banten”. Inilah yang menjadi alasan dasar warna Batik Banten yang cenderung berwarna abu-abu agak lembut. Alasan itu dikemukakan oleh Uke Kurniawan. Air yang digunakan dalam meramu warna untuk batik Banten adalah air yang berasal dari tanah Banten dan hasilnya juga akan berwarna cenderung abu-abu agak lembut, berbeda dengan warna-warna batik lain di Indonesia. Uke Kurniawan menambahkan, bahwa telah dicoba-coba menggunakan air dari tanah Pekalongan, Yogyakarta, dan beberapa daerah penghasil batik di Jawa Tengah, namun warnanya akan berbeda dengan warna yang menggunakan air dari tanah Banten. Penulis belum yakin apa yang menyebabkan perbedaan warna akibat perbedaan air tersebut, namun menurut beliau, hal itu disebabkan oleh perbedaan kandungan mineral yang ada dalam air tanah di setiap daerah di manapun. Meskipun begitu, tanpa dilakukan penelitian yang akurat mengenai hal ini, keterangan dari Uke Kurniawan itu dapat dikatakan bias.

Warna abu-abu agak lembut juga merupakan simbol perwatakan orang Banten. Warna ini mengandung makna bahwa orang Banten adalah orang yang memiliki cita-cita tinggi, selalu tinggi dalam segalanya, wataknya yang keras, tetapi pembawaannya sederhana. Mungkin watak seperti ini sudah dikenal oleh masyarakat luas sebagai watak khas Banten dan karenanya orang Banten disegani. Maka dipilihlah warna abu-abu agak lembut ini menjadi warna dasar dari batik Banten.

Source Banten dalam Motif Batik Batik
Comments
Loading...