Aturan Batik di Keraton Yogyakarta

0 231

Aturan Batik di Keraton Yogyakarta

Penggunaan pada Batik Keraton sudah ada aturan-aturannya. Setiap Sultan yang bertakhta berhak membuat peraturan baru atau larangan-larangan. Terakhir, Sri Paduka Sultan Hamengku Buwana VIII membuat peraturan baru yang merevisi aturam sebelumnya. Aturan itu berjudul “Pranatan dalem bab namenipun pengangge keprabon ing Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat”. Dalam revisi peraturan itu secara spesifik disebutkan motif-motif batik larangan meliputi Parang rusak (Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh). Selain raja, semua, putra dalem juga diperbolehkan mengenakan kain-kain tersebut. Permaisuri diperbolehkan mengenakan busana sama dengan raja. Garwa ampeyan dalem (sehr) diizinkan memakai Parang Rusak Gendreh ke bawah. Garwa Padmi KG Pangeran Adipati diizinkan meuggunakan batik yang sama dengan suaminya. Garwa Ampeyan KG Pangeran Adipati diperbolehkan memakai Parang Rusak Gendreh ke bawah. Demikian pula putra KG Pangeran Adipati, istri para Pangeran Putra dan Pangeran Putra Raja yang terdahulu (Pangeran Putra Sentananing Panjenengan dalcrn Nata) sama dengan suaminya. Garwa Ampeyan para Pangeran diperbolehkan memakai Parang Rusak Gendreh ke bawah.

Wayah dalem (cucu Raja) mengenakan Parang Rusak Gendreh ke bawah. Pun Buyut dalem (cicit Raja) dan Canggah dalem (putranya buyut), Warengipun (cucunya buyut) Panjenngan dalem Nata ke bawah diperbolehkan mengenakan kain batik parang – parangan tetapi harus dengan seling (Motif Parang yang dikombinasi dengan ornarnen lain), tidak diperbolehkan “byur” atau polos. Pepatihdalem (Patih Raja) diperkenankan memakai Parang Rusak Barong ke bawah. Abdidaiem yang terdiri dari Pengulu Hakim, wedana Ageng Prajurit, Bupati Nayaka Jawi lan lebet diperkenankan mengenakan Parang Rusak Gendreh ke bawah.

Bupati Patih Kadipaten dan Bupati Polisi sama dengan abdi dalem tersebut di atas, Penghulu Landrad, Wedana Keparak para Gusti (Nyai Riya), Bupati Anorn, Hiya Bupati Anom, Parang Rusak Gendreh ke bawah. Abdidaiem yang pangkatnya di bawah abdi dalem Riya Bupati Anom dan yang bukan pangkat bupati Anom, yakni yang berpangkat Penewu Tua juga termasuk yang diijinkan menggunakan Parang Rusak Gendreh ke bawah. Peraturan tersebut begitu terperinci sehingga mudah diikuti baik seluruh penghuni Keraton maupun mereka yang ada di luar Keraton.

Di luar aturan baku seperti yang dituangkan di atas, yang termasuk motif larangan adalah Sembagen Huk, sebagai rasa hormat kepada Suitan Agung Hanyakrakusuma yang menciptakan motif batik tersebut. Seiain itu, Batik Keraton juga banyak menyerap motif-motif dari India berupa Motif Patola (juga disebut Chinday, kemudiau menjadi Cinde) dan Sembagi (asalnya bernama Chinz) yang berasal dari India. Motif serapan yang digemari para bangsawan tersebut disebut Nitik atau Jlamprang. 

Source http://pabrikbatik.com/ http://pabrikbatik.com/2017/02/03/aturan-di-keraton-yogya/ 
Comments
Loading...