Aplaus Untuk Pejuang Batik

0 18

Aplaus Untuk Pejuang Batik

Sebagai pelestari budaya Indonesia, perkumpulan The Culture Heritage of Indonesia (CHI Heritage-Warisan Budaya Indonesia) memberikan penghargaan di momen Hari Pahlawan. Bertempat di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, penghargaan diberikan kepada para pejuang batik.

Ketua Pelaksana CHI Award 2018 Ayu Dyah Pasha menuturkan, CHI Heritage bertujuan turut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia. Dimana Indonesia adalah keajaiban dunia.

Sekitar 17 ribu pulau di negeri ini dengan lebih 300 kelompok etnis, lebih d ari 1.300 suku bangsa, dan 652 bahasa daerah. “Tak heran Indonesia dikatakan sebagai taman sari puspa ragam budaya. Kekayaan yang luar biasa ini sudah sepatutnya dan seharusnya dilestarikan dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Dari generasi ke generasi,” ucapnya.

Berbagai macam cara pun sudah dilakukan untuk melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya. Baik kelompok maupun perorangan.

Mereka ini yang harus dipertahankan dan diberikan penghargaan. “Melalui CHI Award 2018 ini kami ingin mengapresiasi para pahlawan batik di Indonesia. Dari awal sampai selesai, proses batik merupakan pekerjaan tangan yang penuh cita rasa seni dan keteguhan hati saat melakukannya. Peralatan yang diciptakan untuk membatik juga penuh cita rasa seni, tidak semua orang memiliki,” ungkap dia.

Pihaknya ingin, agar kaum milenial mengetahui dan memiliki kepedulian seni budaya. Khususnya batik.

Dia menambahkan, batik itu DNA-nya Indonesia. Maka itu, dia menilai, harus ada gerakan nyata untuk melestarikan batik.

Melalui CHI Award ini diharapkan bisa menjadi dorongan bagi UKM lain agar tidak menyerah membuat batik. Hadiah berupa uang tunai pun diberikan.

Penghargaan diberikan kepada kategori penerus, inovator, dan juga penghargaan khusus (Legacy). Kategori Lestari diraih perajin canting tulis Chuzazi.

Untuk kategori khusus diberikan pada Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro. Go Tik Swan sendiri adalah orang yang mendapat tugas dari Presiden Pertama Soekarno untuk membuat batik Indonesia. Batik hasil perkawinan batik klasik keraton, gaya batik Surakarta dan Jogjakarta dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, utamanya Pekalongan.

Sementara, Widianti Widjaja, 41, generasi ketiga Oey Soe Tjoen (OST) mengatakan, sejak 2003 lalu, dia membatik, secara otodidak. Tidak sempat diajarkan orangtua.

Dia meneruskan usaha batik sang kakek. “Kita punya 12 karyawan yang umurnya diatas 30 tahun. Karyawan kelas premium di Pekalongan. Motif andalan kami itu boketan, bunga, cuiry, dan hokokai,” ungkap perempuan yang mengenakan kebaya putih di acara tersebut
Sementara itu, Azis, anak Chuzazi pembuat canting menuturkan, satu canting dijual seharga Rp 5.000. Produksi 200 buah sehari dibuat hanya 2 orang. Kendalanya proses pembuatan jarum cucuk dan pembakaran.

“Dibutuhkan pelatihan khusus, tidak bisa satu hari jadi. Sebab usaha pembuatan canting ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Yah, mudah-mudahan melalui award ini, ke depan bisa lebih mengedukasi masyarakat dan pemerintah untuk menghargai karya kerajinan batik,” harapnya.

Source https://www.indopos.co.id https://www.indopos.co.id/read/2018/11/12/155204/aplaus-untuk-pejuang-batik
Comments
Loading...