Ahmad Rifai, Pelopor Batik Rifa’iyah

0 147

Ahmad Rifai Pelopor Batik Rifa’iyah

Sebutan Rifa’iyah pada batik khas Batang diambil dari seorang tokoh agama bernama KH Ahmad Rifai. Sebagaimana disarikan dari buku Rembug Batik karya Budi Mulyawan dkk. Ahmad Rifai berdakwah sekitar tahun 1835 dan menulis buku sebanyak 67 judul dalam jangka 21 tahun. Ada yang 1 judul memuat 4 buku lebih. Dari jumlah tersebut, baru 64 yang ditemukan, sedangkan sekitar tiga karangannya tersisa di Amsterdam.

Ahmad Rifai dikabarkan dari Yogyakarta. Dahulu ia lahir di Kendal. Bapaknya bernama Maroko. Ia juga sempat diasingkan dari Kaliwungu Kendal ke Kalisalak-Batang. Konon, beliau satu zaman dengan KH Muhammad Cholil Bangkalan (Mbah Cholil) yang juga pernah menjadi buruh membatik di Kebon Candi, Pasuruan, dan sezaman pula dengan Syekh Nawawi Bantan (Banten). Ahmad Rifai banyak melakukan penerjemahan bahasa Arab ke Jawa agar menyesuaikan budaya lokal, termasuk melakukan semacam distorsi motif pada batik. Gambar hewan diubah agar tidak terlihat seperti makhluk hidup. Prinsip ini meluas hampir di semua batik pantura.

Ajarannya kemudian melahirkan komunitas Rifaiyyah di Kalisalak, Batang. Rifa’iyah ialah lembaga atau ormas yang ada sekitar 1876. Komunitas Rifa’iyah membuat batik dengan konsep tiga negeri yang sebenarnya bermakna tiga hal, yakni tauhid, tasawwuf,dan ushulfiqih. Itulah mengapa bagi komunitas Rifa’iyah, membatik merupakan pengamalan syariah dan dakwah. Bagaimana membentuk komunitas dakwah. Begitu yang ditulis dalam buku Rembug Batik.

Batik Rifa’iyah mendapat pe­ngaruh kuat Islam, yang ditampilkan dalam motif dan coraknya. Meski demikian, Batik Rifa’iyah mempunyai nilai karya seni yang luar biasa. Batik Rifa’iyah dibuat dalam bentuk kain panjang, sarung, maupun selendang yang difungsikan sebagai penutup aurat.

Source http://www.mediaindonesia.com/ http://www.mediaindonesia.com/news/read/56468/mengenal-filosofi-batik-rifa-iyah/2016-07-17 
Comments
Loading...