5 Batik Motif Klasik yang Mendapatkan Pengaruh Islam

0 14

5 Batik Motif Klasik yang Mendapatkan Pengaruh Islam

Batik sudah sejak zaman dahulu kala berkembang dan terus berkembang. Meskipun agama dan kepercayaan yang terus berganti di Nusantara, batik mampu menyesuaikan diri dan mampu menempatkan diri sesuai dengan zaman kebudayaan yang ada saat itu. Salah satunya adalah agama Islam, dan inilah 5 batik motif klasik yang mendapatkan pengaruh Islam.

Perkembangan perdagangan islam yang pesat juga mengiringi perkembangan batik yang mulai mendapatkan pengaruh dari agama Islam, meskipun tidak semuanya. Dengan budaya Jawa yang juga masih tetap dipertahankan ke dalam beberapa motif batik tersebut.

Tidak hanya dalam pewarnaan, tetapi filosofi yang dibawa motif tersebut melambangkan konsep Islam yang cinta damai, yang juga mampu memberikan filosofi untuk konsep Ketuhanan yang maha Esa. Lewat batik, secara tidak langsung memberikan pengaruh yang  positif untuk perkembangan batik.

Terlalu banyak intro, nanti menjadi semakin laper ya, langsung saja 5 Batik motif klasik yang mendapatkan pengaruh Islam dalam perkembangannya.

Batik Motif Wahyu Tumurun

Salah satu motif klasik yang sampai sekarang masih banyak kita temui. Telah dikenal sejak tahun 1480, beberapa tahun setelah Islam masuk ke pulau Jawa sekitar tahun 1419. Wahyu yang dala bahasa Jawa berarti anugerah, dan tumurun yang berarti turun, secara harfiah berarti  anugrah yang turun dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dahulu, untuk persiapan pembuatan pola atau motif batik harus melalui proses yang terbilang berat. Para pembuat pola batik rela berpuasa 40 hari 40 malam sebelum memulai menyusun pola batik. Hal inilah yang membuat batik klasik memiliki makna filosofis dan historis yang mendalam. Setiap pola yang tercipta, garis dan titik yang membentuk motif batik berisikan doa dan pengharapan tersendiri pada Illahi.

Dan filosofi yang mendalam pada motif baik wahyu tumurun adalah melambangkan pengharapan akan berkah dan rahmat dari Yang Maha Kuasa untuk mencapai kemuliaan. Motif batik ini juga banyak digunakan pasangan mempelai yang akan menempuh hidup baru.

Batik Motif Sido Luhur

Meskipun tidak sepopuler kedua saudaranya Motif Sido Mukti, motif Sido Luhur merupakan buatan Nyi Ageng Henis, istri dari Ki Ageng Henis yang membesarkan kampung Batik Laweyan. Yang sudah kita bahas mengenai keislaman beliau di artikel kemarin.

Selain Motif terkenal Udan Liris yang juga buatan Ki Ageng Henis, motif Sido Luhur menjadi sebuah maha karya yang sampai sekarang masih bisa kita temukan di zaman modern ini. Dan seperti kita tahu, Ki Ageng Henisadalah seorang yang beragama Islam dan sekaligus murid Sunan Kalijaga.

Yang unik adalah, penciptaan motif batik sidoluhur yang menuntut pencipta awalnya untuk menahan nafas berlama-lama. Menurut seorang pengamat budaya Jawa, Winarso Kalinggo, motif itu kemudian dimanifestasikan ke selembar kain (dicanting) oleh Nyi Ageng Henis.

Nyi Ageng sendiri adalah seorang yang mempunyai kesaktian. Ceritanya, Nyi Ageng selalu megeng (menahan) nafas dalam mencanting sampai habisnya lilin dalam canting tersebut. Hal itu dimaksudkan agar konsentrasi terjaga dan seluruh doa dan harapan dapat tercurah secara penuh ke kain batik tersebut.

Motif Kawung

Salah satu motif yang juga mendapatkan pengaruh penyebaran agama Islam. Motif Kawung memiliki filosofi dalam berbagai versi. Ada yang menyebutkan bahwa motif kawung berarti semua makhluk adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Dan tergantung ketika ada penambahan motif yang lain sebagai pelengkap motif Kawung tersebut.

Ada juga versi lain dari Motif Kawung ini motif Kawung ini adalah doa seorang ibu kepada anaknya yang berharap bahwa putranya bisa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat banyak. Motif Kawung ini berbentuk seperti kolang-kaling, yang biasa kita gunakan untuk berbuka puasa.

Motif Batik Besurek

Membicarakan perkembangan Islam, tentu tidak bisa dipisahkan dari Batik Besurek. Menurut sejarahnya Batik Besurek diperkenalkan pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad ke-17 kepada masyarakat di Bengkulu. Seiring dengan perkembangannya, seni dalam membuat motif pada kain tersebut dipadukan dengan tradisi Indonesia yang berciri khas Bengkulu.

Motif kaligrafi ini terkadang dikombinasikan dengan motif bunga raflessia, atau motif yang lain. Meskipun berupa tulisan kaligrafi, namun kebanyakan tidak memiliki makna yang jelas karena batik ini juga sebagian besar digunakan untuk pajangan atau hiasan.

Batik ini sudah kembali bangkit dari mati suri karena kehilangan pengrajin yang membuat batik tulis ini. Batik daerah Bengkulu ini mulai kembali dilestarikan, dan mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah karena dari sejarahnya yang juga bukti penyebaran Agama Islam di Sumatra, terutama daerah Bengkulu dan sekitarnya.

Motif Parang

Motif yang ditemukan oleh Panembahan Senopati [pendiri Kerajaan Mataram Islam] ketika menjalankan semedi. Panembahan mendapat inspirasi semasa ia melakukan teteki (menyepi dan bersemadi) di goa pinggir Laut Selatan. Ia begitu kagum terhadap stalagmit dan stalaktit yang ada di dalam goa yang dalam pandangan Panembahan sangat khas khususnya pada saat gelap. Setelah menjadi Raja Mataram, ia pun menyuruh para putri kraton untuk mencanting motif tersebut.

Motif tersebut lebih kepada menghargai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan banyak dari pengembangan motif parang yang juga memiliki filosofi tersendiri. tetapi dari sekian banyak pembagian motif parang, ingin mewujudkan seorang manusia yang berbudi luhur dan bijaksana, untuk mengingat bahwa kita semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa.

Penyebaran agama Islam juga membawa pengaruh yang baik kepada perkembangan batik, belum lagi, seni budaya yang saling berpadu menjadi satu membuat batik menjadi salah satu warisan budaya yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Source http://indonesianbatik.id http://indonesianbatik.id/2018/05/20/edisi-ramadhan-5-batik-motif-klasik-yang-mendapatkan-pengaruh-islam/
Comments
Loading...